ASKESIS: Memutus Siklus Konflik dan Kekerasan

Vulcan the Roman God of Fire and Blacksmith - Hephaestus Statue

Jalan ASKESIS: Memutus Siklus Konflik dan Kekerasan

 Oleh: Ito Prajna-Nugroho

SATUHARAPAN.COM – Hephaestus, dewa logam dalam mitologi Yunani yang di kultur Romawi Kekristenan dikenal sebagai Vulcan, dikisahkan bertanya kepada pasangan kekasih yang sedang asyik kasmaran: “Anak manusia, apakah yang sesungguhnya sedang kalian cari dengan bermesraan? Jika memang kesatuan sejati yang kalian inginkan dalam percintaan, mari biar kubantu kalian dengan alat-alat logamku agar kulebur menjadi satu dalam keabadian yang tak akan terpisahkan selamanya!”

Pasangan yang sedang kasmaran pun dibuat tergagap dalam kebingungan. Mereka tidak mampu menjawab apa yang sebetulnya mereka inginkan satu sama lain. Terintimidasi oleh pertanyaan Hephaestus, ngeri dengan sangarnya tampilan Sang Vulcan sebagai dewa logam, mereka pun terpisah lari terbirit-birit tanpa peduli lagi dengan cinta mereka sebelumnya.

Kisah ini dapat kita jumpai dalam Symposium, salah satu karya terkenal filsuf Plato yang ditulis lebih dari 2.400 tahun silam. Plato rupanya terusik oleh satu kenyataan sederhana, yaitu kebanyakan manusia, termasuk kaum cerdik-pandai dan kaum religius, tidak sungguh mengerti apa itu cinta dan abai tentang apa yang menggerakkan mereka untuk saling mencinta. Lebih jauh lagi, hasrat-hasrat dasar yang menggerakkan hidup kita ternyata tidak kita ketahui dan tinggal dalam kegelapan bagi diri kita sendiri (Symposium, 192c5).

 

Cinta dan Mania

Kegelisahan Plato menjadi sangat nyata untuk kita sekarang di Abad ke-21 ketika kedekatan dan keintiman dengan orang lain semakin dipermudah oleh teknologi komunikasi di media-media sosial. Di situlah mungkin terletak paradoksnya: semakin mudah seseorang menikmati keintiman cinta lewat berbagai cara, intisari persahabatan dan cinta justru semakin luput dari genggaman. Kita pun dibuat semakin abai diri.

Pada titik terburuk ketika hasrat pencarian cinta menemui kegagalan maka kegalauan bahkan konflik, entah konflik batin atau konflik dengan orang lain, menjadi konsekuensi tak terhindarkan. Padahal, seperti dikatakan Plato, hasrat (eros) dan cinta (philia) yang kita miliki sebenarnya secara alamiah menghasrati kebahagiaan, kedamaian, dan kebaikan. Erotika cinta, hasrat pencarian cinta, memang selalu mendua: hasrat itu membahagiakan sekaligus menjadi sumber segala kebencian, penderitaan, bahkan perang.

Dalam filsafat Plato, tatanan cinta di tingkat personal mencerminkan juga tatanan keadilan di tingkat sosial politik. Mungkin aneh bagi kita sekarang jika mendengar cinta dikaitkan dengan politik. Tetapi patriotisme misalnya, rasa cinta tanah air yang bahkan bisa membuat seseorang rela mati, adalah bentuk cinta yang meluas ke tingkat politik. Demikian juga cinta akan Tuhan Allah adalah bentuk cinta yang menjadi dasar seluruh bangunan agama. Maka kualitas keadilan dan kedamaian tatanan sosial politik mencerminkan juga kualitas penghayatan cinta manusia-manusia di dalamnya.

Persoalannya, cinta memang mudah bergeser menjadi mania, eros sebagai hasrat kehidupan mudah bergeser menjadi tanathos, hasrat akan kematian. Kegilaan dalam bentuk cinta diri berlebihan, obsesi, dan kesewenganan hasrat adalah keniscayaan dari pergeseran tersebut. Ketika cinta bergeser menjadi mania, maka cinta bukan saja buta, tetapi berubah menjadi sesuatu yang sama sekali lain fitrahnya, yaitu kebencian, kekerasan, dan kebinasaan. Pada titik ini, persahabatan beralih bentuk menjadi relasi obsesif demi kepuasan diri sendiri. Demikian juga cinta akan Tuhan beralih bentuk menjadi obsesi pendakuan Tuhan yang membedakan Tuhan-ku dan Tuhan-mu.

Pada situasi batas peralihan itu cinta akan Tuhan sebetulnya tidak lagi berkaitan dengan Tuhan, melainkan lebih berkaitan dengan kenyamanan psikologis seseorang semata. Hasilnya tentu saja ketertutupan diri dari segala keberlainan, dan kecenderungan menihilkan kekhasan manusia lain demi ‘cinta’. Apalagi perbedaan dan keberlainan, jika tidak dimengerti secara baik memang menggelisahkan. Pada setiap konflik sosial dan kekerasan berlatar agama – di Indonesia seperti pembakaran rumah doa aliran kebatinan Sapto Dharmo di Rembang, konflik di Aceh Singkil dan Tolikara, atau pembantaian warga Paris oleh kelompok teror pada 14 November ini – jauh sebelum konflik meletus sebenarnya dapat terlihat bagaimana hasrat-hasrat manusia mulai saling berbenturan dan bergeser menjadi mania.

 

Memutus Siklus Kekerasan

Berkat kecermatan P. J. Zoetmulder, dalam Manunggaling Kawula Gusti ([1935] 1990), kita mengetahui bahwa dalam aliran-aliran keagamaan tradisional, termasuk Islam Nusantara, kesatuan antara manusia yang terbatas dan Tuhan yang tanpa batas menjadi tujuan orang beragama.

Kesatuan yang sama juga menjadi tujuan hasrat mencinta menurut Plato dalam Symposium. Kesatuan itu melampaui kesatuan badaniah dan mewujud di dalam relasi dengan orang lain, relasi dengan komunitasnya, atau pun relasi dengan dirinya sendiri. Dalam tradisi filsafat Platonisian, Askesis menjadi jalan berat yang menuntun pada kesatuan tersebut, yaitu keandalan melatih diri mengelola perbedaan dan pertentangan di dalam diri atau pun komunitas. Maka jalan cinta sesungguhnya adalah jalan yang berat, baik dalam hidup pribadi, sosial politik, atau pun keagamaan.

Bukan tanpa alasan jika Plato menyebut kebahagiaan cinta niscaya berujung pada kesatuan di antara keelokan, kebaikan, dan keadilan. Di tingkat relasi sosial politik, negara yang mencintai rakyatnya adalah negara yang adil secara sosial dan mampu secara baik mengelola saling pertentangan serta perbedaan di antara warganya. Maka utuhnya kesatuan negara terjadi dengan sendirinya karena cinta rakyat terhadap negaranya.

Di Indonesia relasi cinta di antara negara dan rakyat sepertinya berada dalam posisi yang tidak seimbang: rakyat dituntut mencintai negaranya jauh lebih besar daripada negara mencintai rakyatnya. Pemenuhan rasa keadilan para korban konflik menjadi salah satu contoh ketimpangan tersebut, khususnya konflik-konflik agama yang menyudutkan kelompok-kelompok ‘liyan’ sebagai ‘kaum minoritas’.

Tentunya kita tidak ingin kesatuan yang terbentuk di Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan kesatuan semu layaknya cinta semu dua sejoli di naskah Symposium yang harus dilebur oleh lava panas dewa Vulcan. Untuk itu, tidak ada salahnya jika masing-masing pihak berkonflik, termasuk negara, mulai memutus siklus konflik dan kekerasan dengan belajar dari tradisi-tradisi lampau tentang keampuhan jalan cinta. Sebab di jantung tradisi jalan cinta itu tersimpan satu teknik disiplin yang berdaya-guna kuat dalam memutus siklus kekerasan dan konflik, baik di tingkat pribadi, sosial, maupun politik, yaitu askesis atau disiplin hasrat.

Askesis, yang dalam duaribu tahun sejarah panjang tradisi Kekristenan disebut sebagai Spiritual Exercise, memiliki muatan praktis yang kuat sebagai jalan cinta yang menekankan pada latihan mawas-diri. Marcus Aurelius, tokoh filsafat Stoa sekaligus salah satu kaisar Romawi yang terbesar, menyebut askesis sebagai jalan kewarasan yang memampukan seseorang memeriksa secara rasional dan emosional keputusan-keputusan yang telah dan akan diambilnya.

Michel Foucault, tokoh filsafat aliran Pasca-Strukturalis, menyebut askesis sebagai ‘pratiques de soi’, yaitu teknologi pembongkaran diri yang secara bersamaan memampukan seseorang terarah ke dalam dirinya sekaligus keluar dari egoisme diri dalam suatu cara yang radikal. Foucault bahkan menyebut bahwa prinsip askesis yang sama juga menjadi dasar etis yang mendasari seluruh tradisi modernitas ketika filsafat modern membutuhkan fondasi filosofis-spiritual yang kokoh tetapi juga non-religius.

Untuk kita di Indonesia, dengan seluruh proses modernisasi yang terjadi sekaligus juga kembalinya peran sentral agama sebagai suatu nafas politik, kita perlu bertanya: sejauh mana masing-masing kita dengan keyakinan iman dan motif politik yang berbeda-beda mampu ber-askesis melatih diri membatasi kebebasan kita masing-masing demi cinta dan penghargaan terhadap kebebasan orang lain dalam segala keberlainannya yang sungguh-sungguh ‘liyan’?

 

Penulis adalah Peneliti Lembaga Studi Terapan Filsafat dan alumnus STF Driyarkara

Editor : Trisno S Sutanto

Posted on December 26, 2015 in Artikel

Share the Story

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top