Dari Ruang Erotik ke Ruang Politik: Mencari Manusia Ugahari

cover-buku-xarmides-platon-tentang-keugaharian-a-setyo-wibowo
Resensi Buku Akhir Pekan Koran TEMPO
24 – 25 September 2016

Dari Ruang Erotik ke Ruang Politik

Oleh Ito Prajna-Nugroho

 

ito-prajna-nugroho-koran-tempo-24-09-2016-artikel-resensi-buku-dari-erotik-ke-politik-ugahari

Klik gambar untuk membuka files

Jika ia menanggalkan bajunya, tubuhnya begitu sempurna. Tetapi anak muda itu akan berdaya pikat luar biasa seandainya ia memiliki lagi satu hal yang kecil saja: kalau jiwanya berkodrat baik. Maka, sebelum kita menelenjangi tubuhnya, mengapa tidak menelanjangi jiwanya terlebih dahulu?”

Demikian kutipan percakapan Sokrates dengan sahabat-sahabatnya sekitar 2.400 tahun lampau di sebuah pusat kebugaran berisi muda-mudi rupawan. Percakapan ini termuat pada halaman 74 buku  Platon: Xarmides–Tentang Keugaharian yang diterbitkan Penerbit PT Kanisius, Yogyakarta, kurang dari setahun yang lalu.

Buku ini merupakan reproduksi tulisan filsuf Plato (427–348 SM) yang berjudul Xarmides: Peri Sophrosune (Perihal Keugaharian). Berkat kerja A. Setyo Wibowo, penulis muda bergelar doktor filsafat klasik dari Universitas Sorbonne, Prancis, kini kita dapat membaca buah pikir Plato dalam bahasa Indonesia.

Sebagai penerjemah, A. Setyo Wibowo menerjemahkan naskah Plato langsung dari bahasa Yunani Kuna. Penerjemahan dilakukan secara cermat, disiplin, tanpa kehilangan relevansi untuk Indonesia. Kecermatan terlihat dari catatan-catatan penerjemahan yang rinci guna membantu pembaca memahami uraian Plato. A. Setyo Wibowo menyebut Plato sebagai “Platon”, sebab memang aslinya sang filsuf bernama Platon. Bahasa Inggris dan Belanda kemudian membahasakan Platon sebagai Plato sesuai dengan kenyamanan lidah.

Sebagai filsuf, Plato menulis dalam bentuk percakapan, berlatar kesibukan sehari-hari warga biasa. Percakapan dalam buku Xarmides mengambil tempat di pusat kebugaran di metropolis Athena. Sebagaimana tempat fitness, isinya dipenuhi oleh muda-mudi yang asyik nge-gym, bergaya kekinian serta elok rupawan. Xarmides adalah nama pemuda yang sedang tenar. Ia tampan, cerdas, datang dari keluarga kaya terpandang, calon pemimpin, dan menjadi idaman muda-mudi.

Dalam percakapan Plato ini terasa pendar erotika. Plato melukiskan bagaimana tatapan orang lain, lewat tubuh memikat, dapat menyergap kesadaran dan membuat lupa diri. Tapi erotika segera beralih ke ruang politik, ketika Sokrates bertanya tentang apa yang diketahui Xarmides mengenai keelokan dirinya. Keelokan rupa Xarmides segera kehilangan daya pikatnya, karena ternyata ia tidak tahu apa pun tentang dirinya. Lebih parah lagi, Xarmides tidak tahu bahwa ia tidak tahu, dan bertingkah layaknya orang yang serba tahu (halaman 82–93). Bagi Sokrates, Xarmides adalah pemuda yang memikat dan menggairahkan, namun justru calon pemimpin yang mengkhawatirkan karena tidak layak. Kepiawaian Plato terletak pada kemampuannya menarik pembaca masuk ke dalam ruang erotik untuk segera dipentalkan ke ruang yang sama sekali lain: ruang politik.

Untuk Plato, politik adalah demokrasi. Artinya, politik adalah perkara bagaimana mereka yang berpolitik mampu merawat perbedaan. Merawat perbedaan, dalam konteks Plato, juga berarti mampu mengenali potensi tirani kesewenang-wenangan, termasuk tirani di dalam diri, hal yang ada dalam diri Xarmides.

Bagi Plato, negara adalah jiwa yang tertulis dengan huruf kapital. Merawat kehidupan bersama tidak ubahnya merawat diri di tempat kebugaran: demi menjadi fit kita dibuat berkaca pada diri sendiri, dibuat lelah berkeringat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, ditarik ke titik batas ketahanan agar semakin toleran terhadap rasa pegal serta rasa jemu. Demi semakin fit itu diperlukan kemampuan moderasi: tidak terlalu menggebu tapi juga tidak lekas jenuh, tahu kemampuan diri tapi juga tahu ketidakmampuan diri. Mudahnya, seseorang memiliki pengetahuan untuk mengenali batas: batas kepentingan diri, batas keadilan, batas toleransi, dan tentu saja batas tatanan. Kemampuan inilah yang disebut keugaharian. Mereka yang memilikinya adalah manusia ugahari (halaman 105–106).

Dengan kata lain, manusia ugahari mampu menelanjangi diri sendiri, membuat jiwanya transparan. Di mata Plato, ketelanjangan seperti ini adalah keelokan yang sesungguhnya. Mereka yang berani menelanjangi diri dari atribut-atribut tempelan, seperti keyakinannya, kekuasaannya, kemapanannya, merekalah manusia-manusia ugahari yang dibutuhkan politik. Maka bagi Plato, kriteria politik sungguh sehari-hari dan bersahaja: ugahari. Di tengah sibuknya hidup sehari-hari—keseharian yang dipompa oleh ambisi kesuksesan tapi dipenuhi oleh korupsi dan skandal, tidaklah salah jika Anda sejenak mengambil napas panjang lalu memulai proses ugahari dengan membaca buku ini.

Platon: Xarmides–Keugaharian

Penulis : A. Setyo Wibowo

Penerbit : PT Kanisius, Yogyakarta, 2015

Jumlah halaman : 230

Posted on October 7, 2016 in Artikel, Buku

Share the Story

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top