Catatan BurHan (Burung Hantu) MINERVA

CDL Painting 1

Mafia dan Thuyul: Memahami Dunia Underground

Mafia dalam Birokrasi

cdlGaya mafia dalam birokrasi mendominasi lini sumber daya yang mempunyai posisi strategis, kewenangan, kekuasaan atas hajat hidup orang banyak. Yang disebut mafia adalah mereka yang mengendalikan dan menguasainya.

Para mafia tidak hanya mendominasi melainkan juga membangun PAKTA DOMINASI dan mengkorupsi birokrasi negara untuk mempengaruhi dan menguasai manusia-manusia sedemikian rupa sehingga tidak ada yang mau/mampu untuk melawan apalagi berseberangan dengan dominasi mereka. Kekuatan dan kekuasaan dikuasai dari hulu sampai hilir, dari level elit sampai ke mandor lapangan. Sistem yang dikembangkan gaya mafia ini menekankan adanya suatu ikatan non-struktural maupun struktural yang saling mengukuhkan satu sama lain entah itu sebagai klik, kroni, kerabat, grup, mantu, mertua, pacar, selingkuhan, dll, sebagai pengukuhannya.

Pakta dominasi adalah kolonisasi (penguasaan) sumber-sumber daya strategis yang dilakukan melalui pendekatan kekuasaan (juga kekerasan) atas posisi-posisi penting yang mempunyai kewenangan dan dapat langsung mempengaruhi kebijakan negara.* Pakta dominasi mengembangkan pola-pola pendekatan personal yang merembes pada semua lini dan basis-basis sumber daya level bawah, menengah maupun di tingkat atas. Sumber daya akan menjadi urat nadinya, tanpa sumber daya maka akan lumpuh sistem yang dibangunya. Pendekatan personal dan menjadikan orang saling berhutang budi. Ketergantungan ini pada akhirnya membuat loyalitas, kepekaan, dan kepedulian kepada TUGAS NEGARA hanya bagian dari numpang hidup (nunut urip).

Dominasi dari satu golongan/kelompok akan melemahkan bahkan mematikan kepekaan dan kepedulian akan kesadaran moral! Hegemoni diterapkan untuk mendominasi sumber-sumber daya yang ada secara tidak fair dan menjadi KKN/Korupsi Kongkalikong dan Nepotisme. Siapa berani melawan akan dimatikan atau dibuang, karena struktur sudah dikuasai dari hulu sampai hilir.

Kesadaran praktis telah dikuasai dan perilaku hisap menghisap menjadi normalitas.

 

Ngathoki thuyul dengan sistem?

CDL Painting 2Mafia di mana-mana menakutkan karena penguasaan sumber daya dan melestarikan pendapatan siluman yang mensejahterakan kelompoknya. Mafia ini bukan lagi perorangan dan bukan lagi konvensional melainkan telah menjelma menjadi suatu kejahatan terorganisir dan kejahatan dalam birokrasi (termasuk juga DEMOKRASI). Aset kelompok mafia bahkan terbukti bisa jauh lebih besar dibandingkan aset Negara, termasuk aset negara Indonesia!

Mafia ooh mafia..Sulit dinyatakan namun ada dalam kenyataan. Pungutan-pungutan, sogok-menyogok, peras-memeras, mark-up, pemangkasan, dsb. Mafia bagaikan thuyul yang tak berujud namun terus seliweran.

Mentransparansikan kegiatan mafia ini bagai ngathoki thuyul (memberi celana bagi thuyul : makhluk jadi-jadian pencuri uang). Jadi ya tidak mungkin thuyul mau dikathoki sebab dia akan mudah ditangkap. Kalau Negara mau serius ngathoki thuyul secara sistematis caranya adalah dengan membangun sistem! Dengan adanya sistem online misalnya, sistem-sistem yang transparan maka thuyul-thuyul terpaksa kathokan (bercelana). Tatkala sistem telah terbangun secara online maka secara administrasi akan mudah terbaca, tercatat sepanjang masa, dan bisa dianalisa kapan saja.

Sistem on line perlu terutama pada jabatan-jabatan yang berkaitan dengan pelayanan publik dan semestinya semakin menghindari pertemuan person to person. Selama masih manual, parsial dan konvensional di sana-sini peluang penyimpangan dan penyalahgunaan akan lebih banyak. Sarang dan lahan mafia hidup tumbuh dan berkembang akan semakin subur.

Sangat fantastis dan ironis karena memang di satu sisi dunia underground ini penuh dengan mata air, namun di sisi lainnya penuh air mata.

Mafia ada di semua birokrasi dan menguasai sumber daya. Memberantas mafia tidak bisa hanya dengan kata-kata, slogan dan spanduk, apalagi hanya berteriak-teriak a la kampret bayaran di jalan. Pasti tidak mampu. Sekali njegog ditablek dengan uang sama mafia sdh terkencing kencing mabuknya. Memberantas mafia ini harus dengan sistem online dan pola elektronik yang obyektif. Semua ini sebetulnya tinggal political will, punya nyali atau tidak. Ide, power, massa dan timing seharusnya ada. Tinggalah para ndoro penggede rela menghentikan atau justru betah memelihara thuyul?

Melawan mafia bagai melawan siluman: tidak nampak di permukaan namun ada dan dirasakan gangguannya. “Ngathoki thuyul dengan sistem!” cepat atau lambat siluman-siluman ini akan galau, gerah dan kemudian bisa segera digiles. Walau awalnya memang akan terus menggeliat dan melakukan perlawanan luar biasa, termasuk aksi tanggap-darurat bagi-bagi duit ke sana-sini.

Hayo…situ kebagian nggak?

___________________________

*Secara konseptual istilah “Pakta Dominasi” (Pact of Domination) mengacu kepada teori ketergantungan (dependency theory) dalam ilmu-ilmu sosial-politik dan studi pembangunan. Secara ringkas, istilah “Pakta Dominasi” hendak menyatakan bahwa ‘Negara’ (the State) adalah bentuk legitimasi struktur kekuasaan yang melestarikan ketimpangan sosial-ekonomi dengan cara menciptakan ketergantungan terus-menerus terhadap pihak-pihak lain di luar negara itu sendiri. Ketergantungan tercipta misalnya melalui guyuran hutang-hutang luar negeri dari negara-negara pemberi hutang, lembaga-lembaga keuangan dunia, ataupun pihak swasta multinasional untuk membiayai program-program pembangunan negara tertentu. Pelestarian ‘Pakta Dominasi’ juga kerap terjadi melalui pendekatan non-struktural yang ditujukan secara sengaja untuk merusak struktur seperti korupsi dan pola bisnis underground macam mafia. Presiden Brasil Fernando Henrique Cardoso, yang memerintah Brasil dari tahun 1995-2002, adalah salah satu tokoh yang mengikuti dan mengembangkan teori Pakta Dominasi ini. Lihat F. H. Cardoso, Charting A New Course. The Politics of Globalization and Social Transformation. Rowan & Littlefield Publisher, 2001.

Catatan akhir tahun

Chryshnanda Dwilaksana

Editor: Ito Prajna

Posted on December 19, 2015 in Featured, Jurnal, Kenegaraan, Kepemimpinan & Pendidikan, Uncategorized

Share the Story

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top