MEMBEDAH FILSAFAT EKSISTENSIALISME SARTRE

FILSAFAT EKSISTENSIALISME JP SARTE - PENERBIT KANISIUS

Review / Resensi Buku

Ditulis oleh Boyke Rahardian untuk komunitas pembaca goodreads.com.

Buku ini merupakan telaah kritis terhadap eksistensialisme Sartre yang ditulis oleh lingkar pemikir STF Driyarkara dari berbagai sudut pandang yang terbagi dalam 7 bagian.

Di Bagian Pertama Dr. A. Setyo Wibowo membahas salah satu ide dasar eksistensialisme yaitu kontingensi (keadaan tanpa konsistensi). Bagi Sartre “…karakter dunia dan manusia adalah tanpa makna…absurd. Kalau ada sebuah makna untuknya, manusia itu sendirilah yang memberinya lewat tindakan menidak secara terus menerus terhadap pengobyekan yang dilakukan l’autre. Manusia menjadikan dirinya manusia ketika dia menyadari sebagai pour-soi. Dan secara penuh, pour-soi merealisasikan dirinya di tengah pilihan-pilihan kontingen, yang dia lakukan setiap saat sesuai dengan pilihannya sendiri.” [h.32].

Kritik utama Setyo Wibowo terhadap pilihan-pilihan kontingen ditunjukkan lewat sikap Sartre sendiri yang “…teramat berani dan menentang arus di satu sisi, dan perubahan-perubahan pandangan politis (atau ketidakjelasan sikap politis) di sisi lain” [h.23] serta hubungan segitiga Sartre – Beauvoir – Bianca yang bisa dibilang eksploitatif. Dalam kedua contoh tersebut Wibowo menilai bahwa akibat terus menerus menidak dunia luar dan tidak mempunyai referensi eksternal yang menjadi kriteria, eksistensialisme secara kontradiktif meninggikan pour-soi sebagai causa sui. Sebagai gaya hidup eksistensialisme jadinya menjurus narsistik seperti air yang tergenang [h.56] dan selalu bersifat ambigu.

Menariknya, dalam Bagian 2 Alex Lanur menulis bahwa sesungguhnya pemikiran Sartre tentang hubungan antarmanusia bergerak dari ciri utamanya yang mementingkan konflik yaitu penolakan pour-soi terhadap pengobyekan en-soi (yang dikritik Wibowo di Bagian 1) menjadi relasi timbal-balik dan akhirnya cinta otentik, ditilik dari kronologi 3 buku karya Sartre. Jadi tidak tepat bila hanya melihat pandangan Sartre terhadap relasi antarmanusia dari tulisan awalnya saja.

Contoh hubungan antarmanusia yang penuh konflik dijabarkan secara gamblang dalam drama karya Sartre Huis Clos (No Exit) yang dibahas di Bagian 6. Dalam drama inilah pertama kali dimunculkan ekpresi eksistensialisme yang paling terkenal “L’enfer, c’est les autres” atau “Hell is other people“. Sartre memang menaruh perhatian penting terhadap karya sastra yang menurutnya bisa menjadi sarana praksis [h.95, Bagian 3] dan harus berperan dalam “…membimbing pembaca kepada kebebasan yang lebih purna [h.89]. Ia menolak adagium “art for the art’s sake” dan memimpikan peran sastra yang bisa mendorong revolusi [h.95]. Kelihatan jelas pengaruh Marxisme dalam pendapat Sartre tentang peran sastra.

Konsep penting lain dalam eksistensialisme adalah ateisme yang dibahas di Bagian 4 oleh Simon Lily Tjahjadi. Ketiadaan tuhan dalam pandangan Sartre adalah konsekuensi logis dari sifat menidak pour-soi terhadap en-soi. Seandainya tuhan ada, maka ia merupakan identitas penuh dari pour-soi sekaligus en-soi dan ini kontradiktif. Tidak mungkin sifat-sifat tuhan yang abadi dan tidak berubah (ciri-ciri en-soi) akan bisa direkonsiliasi dengan kehendak, kesadaran dan kebebesannya (ciri-ciri pour-soi). Tuhan ada sekaligus menidak keberadaannya [h.127].

Ketiadaan tuhan selain itu adalah prasyarat dari kebebasan manusia, sebab bila kehendak tuhan adalah mutlak maka manusia akan menjadi obyek ciptaan dengan kodrat tertentu. Manusia seperti ini tidak bebas padahal menurut Sartre “manusia itu seutuhnya senantiasa bebas ATAU ia tidak ada sama sekali” [h.129]. Bagaimana konsekuensi praktis dari ketiadaan tuhan bagi manusia? Sartre mengakui bahwa hidup tanpa tuhan penuh susah payah dan bagai “orang yang bepergian tanpa tiket / tujuan” [h.130]. Mengenai makna hidup, kembali ke prinsip eksistensialisme, Sartre berkata bahwa secara obyektif hidup pada dasarnya adalah tanpa makna. Kendati demikian secara subyektif kita bisa memberi makna lewat pelaksanaan kebebasan kita atas hidup ini dan dengan itu, hidup manusiawi sebetulnya baru menjadi mungkin [h.130].

Kritik penulis terhadap ateisme Sartre terkait dengan kontradiksi antara pour-soi dan en-soi: mempertanyakan alasan mengapa kebebasan tidak bisa dijalankan dalam batasan-batasan kodrat?

Dari sekian banyak kritik terhadap eksistensialisme tersebut, di bagian penutup Ito Prajna-Nugroho (menulis tentang Kesalahpahaman Sartre Terhadap Fenomenologi Husserl) memberikan pendapat yang menarik tentang relevansi eksistensialisme untuk kehidupaan modern saat ini dan patut dikutip secara penuh di sini “Eksistensialisme disebut sebagai radikal karena [ia] memungkinkan setiap orang untuk mepertanyakan kemungkinan dan makna hidupnya yang terdalam. Hanya dengan pertanyaan dan keragu-raguan saja maka diri kita sebagai pribadi dapat berkembang. Tanpa pertanyaan dan keragu-raguan ini hidup setiap orang dengan sendirinya telah selesai hanya dengan masuk kantor pukul 9 pagi, pulang pukul 5 sore, dan jalan-jalan ke mall di hari libur. Hidup seperti ini tidak lebih dari banalitas yang puas dengan apa yang tampak. Padahal, banalitas adalah akar terdalam dari radical evil…eksistensialisme memungkinkan setiap orang untuk menyadari dirinya secara otentik, dan membuat perubahan-perubahan mendasar dalam hidupnya.

Posted on October 29, 2015 in Buku

Share the Story

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top