Parrhesia: Tuturan Kebenaran

Lukisan Chrysnanda Dwilaksana

Parrhesia: Telling the Truth, Celoteh Kebenaran

cdlTradisi untuk selalu mengatakan kebenaran, betapa pun menyakitkannya, itulah Parrhesia. Secara khusus para filsuf kaum Stoa mempraktikkan tradisi ini sebagai suatu laku/jalan hidup (way of life), bahkan hingga mengorbankan hidup mereka sendiri di bawah ancaman moncong kekuasaan (Michel Foucault, Hermeneutics of Subject). Lucunya, tradisi ini awalnya dipraktikkan secara intensif di jalan-jalan, di pasar-pasar, hingga di tempat-tempat kumuh, tanpa kehilangan bobot konseptual filosofisnya. Sungguh suatu philosophy on the street!

Jalanan sering dianalogikan sebagai sesuatu yg ilegal, liar, kumuh, kelas rendah, dsb. Namun jalanan juga menjadi sandaran cita-cita, cinta, dan harapan. Tidak sedikit para politisi, pejabat, hingga konglomerat memulai hidupnya dari jalanan, bekerja keras dari pinggir jalan. Persoalan perut kita sendiri saja misalnya, kalau lapar turun ke jalan: jajan, atau sekalian mencari rizki dengan mengamen, mengemis, mengasong, dll. Anak-anak yang tertekan dan jenuh di rumah pun lari ke jalanan. Para kaum muda juga gemar menjadikan jalanan sebagai sarana untuk mengekspresikan bakatnya, dari seni corat-coret hingga kebut-kebutan. Bahkan sampai terbentuk apa yang dikenal sebagai ‘parlemen jalanan’. Lagu ‘Bongkar’ (Iwan Fals) mengabadikannya :”…… di jalanan kami sandarkan cita-cita, sebab di rumah tak ada lagi yg diajak bicara...”

Membongkar kebobrokan sosial pun dimulai dari jalanan: dari melumpuhkan para pelaku kejahatan yang merongrong rasa aman warga masyarakat, hingga menggrebek politisi korup. Membongkar kemunafikan politik dan kedegilan para aparatur penyelenggara negara sering juga terjadi di jalanan. Jalanan memang suatu lintasan kehidupan, ruang publik tempat urat nadi kehidupan tertampakkan. Jalanan menjadi ikon kekuatan bangsa sekaligus simbol kelemahan/kebobrokan moral. Teriakan hingga tangisan terdengar di jalanan.

Namun siapa peduli dengan jalanan? Siapa pahlawan jalanan? Siapa pemimpin yg menjadi ikon untuk menangkap ide dan cita (cinta) dari jalanan? Jalanan hanya dikenal sebagai sesuatu yang buruk, kumuh, jahat. Padahal, ide-ide briliant, teori-teori baru yang merubah jalannya sejarah banyak dilahirkan dari jalanan. Kita berharap para pemimpin tidak sekali-kali pun melupakan kaum jalanan. Meski mereka yang menjadi pemimpin tidak pernah/jarang merasakan kerasnya kehidupan jalanan, sebagai pemimpin kita berharap mereka tetap peka dan peduli. Sayang jika jalanan dilupakan padahal ia sandaran dan harapan untuk mewujudkan cita-cita.

Maka kita menantikan berbagai terobosan kreatif dari para pengambil kebijakan. Apalagi, telah menjadi pendapat umum bahwa setiap kebijakan biasanya merupakan relfleksi atas pertahanan status quo. Singkatnya, ada udang dibalik kebijakan.

Coba kita bertanya/mempertanyakan berapakah angka ketersediaan sarana angkutan umum dibandingkan mobil pribadi, sarana jalan atau kilometer yg tersedia, jumlah kendaraan yang dimaksimalkan sebagai ojek konvensional, gojek, atau taksi. Data ini semestinya menjadi landasan acuan untuk mengambil kebijakan dalam mengisi kekosongan transportasi umum. Apalagi saat ini warga kota besar, khususnya Jakarta, selalu dihadapkan pada hantu macet yang boleh dibilang tanpa solusi. Kepasrahan dan kemarahan seringkali kita jumpai sebagai normalitas hidup kota-kota besar.

Maka mari….janganlah kita takut untuk bersikap kritis dan sigap melakukan komplain atas buruknya pelayanan publik. Jangan justru serba manut. Melakukan kritik terhadap para pemimpin bukanlah suatu kebencian, tetapi justru upaya keadaban warga dalam membangun nalar dan harapan. Kritik dan masukan warga adalah Creative Fidelity yang selalu menyimpan ketulusan hormat sekaligus juga kreatif menerobos banyak kebuntuan. Sikap submisif, takut dan manut, adalah sikap yang sama sekali tidak bertanggungjawab.

Sungguh sayang jika demokrasi hanya melahirkan para birokrat pembebek yang manut sabda ndoronya dan akhirnya menjadi micek (Bahasa Jawa: tidk buta namun pura-pura tidak bisa melihat) serta mbudeg (Jawa: tidak tuli namun pura-pura tidak mampu mendengar). Aparat sesungguhnya perlu jaim (jaga image) sedikit, tetapi tidak boleh tidak peka, tidak peduli, apalagi tidak berbela rasa terhadap warganya!

Mari kita belajar menghabituskan dan mentradisikan kebiasaan untuk mempraktikkan kebaikan dan menuturkan kebenaran…suatu tradisi agung yang dalam tradisi Romawi Kuno disebut sebagai Parrhesia.

Selamat Merayakan Natal 2015 dan Menyambut Tahun Baru 2016

Chryshnanda Dwilaksana

Editor: Ito Prajna

Posted on December 26, 2015 in Featured, Jurnal, Kenegaraan, Kepemimpinan & Pendidikan

Share the Story

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top