Pendidikan Total-militer Sparta: Mewaspadai Fatamorgana “Enak Jamanku Tho?”

mangkat - Copy

PENDIDIKAN TOTAL-MILITER SPARTA:

MEWASPADAI FATAMORGANA “ENAK JAMANKU THO?”

Oleh:

A. SETYO WIBOWO

 

 Terbit di Majalah BASIS, No. 03-04, Tahun ke-63, 2014, hl. 18-30,

artikel berjudul: “Pendidikan Total-Militer Sparta: Mewaspadai Fatamorgana Isih Penak Jamanku Tho?

 

 

Pendahuluan

Kata sifat  spartan dalam bahasa Inggris merujuk pada sifat yang tidak peduli dengan kemewahan atau kenyamanan (dikaitkan dengan cara hidup warga polis/Negara-Kota bernama Sparta yang sederhana seperti di barak militer, serba setara dan tertata). Meski tidak ditemukan di KBBI, istilah spartan menurut penulis juga merangkumi idealisme sifat-sifat tentara yang disiplin, berani, tahan menderita dan seragam tunduk kepada polis. Tidak bisa diingkari bahwa sifat ini sangat menggoda, sehingga wajar kalau foto Jenderal Besar Soeharto dipajang dimana-mana tersenyum menyapa isih penak jamanku, tho?

Orang bernostalgi akan saat di mana rakyat makan 3 kali sehari, sekolah inpres di semua desa, universitas negeri murah meriah, puskesmas dengan dokternya hadir di pelosok, dan biar miskin, semua orang tampak bekerja tekun tanpa dipusingkan oleh politik. Orde Baru adalah era di mana tatanan tampak stabil, politisi sangat irit bicara di koran dan teve, korupsi tidak terekspos, radikalisme dan terorisme dibabat habis, dan semua tampak aman terkendali.

Orang lupa bahwa Orde Baru adalah era di mana militer menguasai Indonesia dalam semua sendi kehidupannya. Parpol diringkus, sehingga hanya Golkar yang boleh menang selama 5 kali Pemilu. Rakyat dijadikan massa mengambang dan takut kepada politik, pers dibungkam, mahasiswa yang kritis dipenjara, orang yang berani mengritik dihabisi secara sosial dan ekonomis, kekuasaan terpusat di satu tangan. Anak SD sampai SMA diseragami dan rutin disuruh baris berbaris di bawah matahari, kanopi toko-toko di sepanjang jalan besar di Ambarawa-Ungaranpun harus dicat seragam dengan warna merah-putih, dan menjelang pemilu, trottoar dan pohon-pohon hanya boleh diberi satu warna, yaitu kuningnya Golkar. Keseragaman, rakyat yang patuh, otak yang kering, tatanan yang serba disiplin dan tidak menolerir perbedaan, adalah wajah umum ketika masyarakat dipimpin bak tangsi militer. Wajah itu menjadi seram ketika ujudnya adalah kematian ratusan ribu orang yang dituduh PKI atau penembakan misterius (petrus) di tahun 80-an. Berkenaan hal terakhir, Anhar Gonggong menulis: « Soeharto (dalam memoarnya) mengakui keterlibatan pemerintah dalam pembantaian tersebut. Sebagai ‘terapi kejutan’, menurut Presiden » (Anhar Gongong dalam Epilognya untuk Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian, Bandung: Mizan, 2013, hlm. 282-283, 572). Peristiwa Tanjung Priok, Kedung Ombo, penculikan mahasiswa menjadi track record seram rejim ini. Orang-orang dekat Soeharto (para Jenderal Kemal Idris, Sarwo Edhie, Sumitro, Ali Murtopo, Benny Moerdani) yang dulu aktif membantu kekerasan-kekerasan jaman Orba akhirnya juga disingkirkan secara mengenaskan oleh Soeharto. Cara kerja Soeharto sederhana: « Mula-mula yang disingkirkan adalah mereka yang berhaluan kiri, tetapi kemudian para simpatisan Sukarno juga mendapat giliran. Setelah yang kiri dan sukarnois dibersihkan, barulah tiba giliran teman seiring, para pendukung, disingkirkan » (Salim Said, 2013, hlm. 250).

Orde Baru adalah sebuah tatanan yang spartan, di mana keseragaman bak tentara dipaksakan kepada rakyat. Namun bukan berarti lalu semua orang menderita di jaman Soeharto! Jelas saja tidak, karena paling tidak ada satu orang (dengan keluarga dan kroninya) yang tersenyum lebar menikmati jaman itu. Tulisan tentang model pendidikan di Sparta ini merupakan tawaran untuk melihat lebih dalam roh rejim Orde Baru yang bersifat totaliter-militeristik. Model pendidikan Sparta bisa menjadi cermin untuk berkaca guna mewaspadai godaan untuk mencari-cari figur mirip the smiling general Soeharto yang selain tegas, disiplin, patriotik, tetapi juga brutal karena ujung semua kekuasaan biasanya tidak jauh-jauh dari cinta berlebihan pada uang.

 

Nostalgia era Tentara

Pada tahun 480 SM, 300 hoplit (tentara infanteri) Sparta menahan laju 300 ribu pasukan darat dan kavaleri Imperium Persia. Xerxes mengirim balantentara yang besarnya belum pernah dilihat di jaman itu. Ratusan ribu pasukan ini ditopang lagi oleh seribu kapal perang dan logistik dalam misi untuk menghukum polis Athena. Leonidas, salah satu raja Sparta, memimpin 300 hoplitnya yang terlatih untuk menahan laju Persia di sebuah celah sempit bernama Thermopylae (sebuah celah selebar 70-an meter, yang diapit oleh jurang ke lautan di satu sisi tebing vertikal gunung yang tak bisa didaki). Cerita, legenda, film hollywood mengekalkan imaji heroik para petempur Sparta yang lebih suka mati berkalang tanah daripada hidup terjajah dijadikan budak oleh bangsa Persia.

Mengapa Persia menyerbu polis liliput di Yunani? Pada tahun 540 SM, Raja Cyrus memperluas Imperium Persia yang sudah besar dengan menguasai polis-polis Yunani di daerah Ionia (sekarang bernama Turki). Pada tahun 499 SM, polis-polis itu ingin lepas dari kekuasaan Persia. Salah satu cucu Cyrus, yaitu Raja Darius, berusaha mengakhiri pemberontakan ini. Kaum pejuang Ionia lantas meminta bantuan polis Athena, yang langsung mengirimkan pasukan bala bantuan. Sebuah politik bunuh diri, karena dengan cara itu polis Athena membangunkan macan tidur. Darius marah dengan kelancangan Athena, dan ia ingin membalas dendam. Sang Raja Besar (julukan untuk Darius) mengirimkan pasukan untuk menghukum Athena. Namun pada pertempuran di pantai Marathon (490 SM), empatpuluhan kilometer dari Athena, 30 ribu pasukan yang dikirim Darius dipukul mundur oleh 8 ribu ribu hoplit Athena di bawah pimpinan Miltiades. Untuk merayakan dan mengingat kemenangan gemilang ini, Athena membangun Parthenon yang megah. Di mata Persia, ini adalah penghinaan tambahan ! Namun belum kesampaian niat Darius mengeksekusi rencana kedua untuk menyerbu Athena, ia meninggal. Giliran Xerxes anaknya untuk membalaskan dendam orang tuanya.

Athena tidak menyangka bahwa Xerxes akan mengirimkan pasukan sebesar itu. Dengan terpaksa Athena meminta bantuan kepada rival abadinya, polis Sparta. Setelah berkonsultasi pada orakel di Delphoi, Leonidas menerima permintaan itu, dan pada tahun 480 SM ia berangkat memimpin 300 hoplitnya ke Thermopylae meski ia tahu bahwa misinya adalah misi bunuh diri. Selama beberapa hari, tigaratus prajurit ini menahan gempuran ribuan pasukan infanteri Xerxes. Hanya kecurangan dan pengkhianatan yang membuat pasukan Persia menemukan jalan belakang, sehingga bisa menjepit Leonidas dari belakang dan dari depan. Meski mereka semua mati, kegagahberanian 300 tentara Sparta dikenang sebagai contoh heroisme ultima bagi bangsa Yunani, dan nama mereka diingat sejarah sampai hari ini. Hoplit Sparta diabadikan namanya, ditakuti dan disegani. Ideal keutamaan (arete) Sparta dikagumi di mana-mana dan menjadi objek keingintahuan.

Bagaimana menciptakan pasukan pasukan khusus seperti hoplit Sparta yang kadang dijuluki « delta force of the antiquity, first professionals of war, ruthless warrior » (bdk. Youtube, « Battle of Thermopylae », dari History Channel)? Lebih tepatnya, bagaimana anak-anak menjadi warga negara yang ujudnya adalah hoplit yang pemberani, pekerja keras, tahan banting dan di atas segalanya memiliki ethos untuk mengorbankan dirinya demi polis?

 

Sumber Informasi

Orang Sparta memiliki sistem pendidikan (paideia) sendiri yang bernama agôgé. Model ini orisionil dan sangat berbeda dengan banyak polis Yunani di era klasik karena di Sparta pendidikan bersifat wajib, dan dijalankan oleh polis maupun kelompok-kelompok masyarakat di dalamnya. Agôge menjadi syarat mutlak seseorang diterima sebagai warga negara. Hal seperti ini tidak ada di polis-polis Yunani lainnya.

Sumber yang bisa dipercaya untuk membicarakan pendidikan model Sparta tidak banyak. Kehati-hatian dituntut supaya tidak jatuh menggambarkan Sparta secara terlalu idealis, atau sebaliknya, menganggap Sparta sebagai sekedar legenda rekaan belaka (bdk. Edmond Lévy, Sparte: Histoire politique et sociale jusqu’à la conquête romaine, Paris: Editions du Seuil, 2003, hlm. 7-8). Yang terlalu mengidealkan Sparta adalah beberapa pemikir Jerman seperti K. O. Müller (Die Dorier, Breslau, 1824) dan W. Jaeger (dalam artikel « Tyrtaios, über die wahre Arete: Sitzungsberichte, Phil-hist. Klasse, 1932, hlm. 537-568), sementara yang terang-terangan mengatakan pendidikan Sparta sebagai  mirage (ilusi mirip fatamorgana di gurun pasir) adalah Henri-Irénée Marrou (Histore de l’éducation dans l’Antiquité: I Le monde grec, Paris: Editions du Seuil, 1948, hlm. 51). Di mata kamu pecinta darah dan besi, kisah Sparta dijadikan manual yang dipelajari secara serius di kalangan Adolf-Hitler Schulen, sementara bagi kaum anti-fasis, Sparta adalah sebuah bayang-bayang gelap hantu yang harus ditengking ! Singkatnya, Sparta adalah objek studi yang membuat pihak kanan maupun kiri sama-sama keras posisinya (Claude Orrieux dan Pauline Schmitt Pantel, Histoire grecque, Paris: PUF, 1995, hlm. 101).

Bila merunut ke belakang, sejak abad VIII SM di Sparta sudah ditemukan adanya tradisi kesenian, yang dari situ berkembang menjadi sebuah model pendidikan yang mencapai puncaknya di abad VI SM (abad ketika polis Athena belum mencapai apa pun). Masalahnya, sumber-sumber informasi yang dimiliki untuk membahas model pendidikan di era keemasan Sparta ini ternyata berasal dari abad-abad yang jauh setelahnya. Informasi kabur dari pertengahan abad ke VI SM (dari Herodotos) hanya mengatakan bahwa orang-orang dewasa di Sparta biasanya berambut panjang, terkenal memiliki rasa hormat yang besar kepada orang tua, dan tidak suka omong panjang lebar. Dan lewat informasi Thukydides (abad V sampai awal abad IV SM) kita diberitahu bahwa Perikles mengontraskan cara hidup orang Athena (tempat Perikles) yang bebas dan demokratis dengan cara hidup orang Sparta yang berat dan penuh latihan tempur (bdk. Edmond Lévy, 2003, hlm. 52).

Sumber terpenting tentang pendidikan Sparta berasal dari abad keempat SM, yaitu dari Xenophon, Platon dan Aristoteles. Sumber lain yang banyak berbicara tentang Sparta, dari Plutarchus, berasal dari era yang lebih jauh lagi (yaitu abad I dan II Masehi). Mengikuti informasi Xenophon, model di Sparta sangat unik karena pendidikan menjadi syarat mutlak agar seorang anak bisa menjadi warga negara resmi (dan terutama bisa masuk ke kelompok elit pengawal Raja, Hippeis). Seorang anak yang gagal dalam proses agôgé (pendidikan) akan dianggap warga kelas dua dan tidak akan pernah menduduki jabatan pemerintahan.

Menjadi warga negara artinya menjadi homoioi (dari kata homo artinya sama, setara). Hanya setelah melalui proses agôge, dan telah mampu memberi kontribusi untuk acara makan bersama (syssition), pada usia 30 tahun seseorang bisa disebut warga negara. Saat diterima itulah, polis akan memberikan kepadanya kleros (sebuah porsi tanah) lengkap beserta petani-petani penggarapnya (yang disebut hilotes, semacam kaum budak di Sparta). Kleros adalah milik negara, pada saat seseorang meninggal, maka tanah dikembalikan kepada negara untuk dibagikan kepada warga lainnya lagi. Kaum Setara (homoioi) pekerjaan utamanya adalah menjadi prajurit. Tanah mereka sudah dikerjakan para budak, sementara peran serta politik mereka di polis sangat terbatas. Sparta diatur oleh dua raja (dari dua keluarga yang secara tradisional menguasai Sparta), institusi gerousia (kaum tetua yang jabatannya seumur hidup) dan 5 ephores (eksekutif, yang dipilih setahun sekali) . Oleh karena itu peran warga negara dipusatkan pada peran militer (Claude Orrieux dan Pauline Schmitt Pantel, 1995, hlm. 105).

Platon dan Aristoteles memuji model pendidikan wajib di Sparta, apalagi mereka melihat bahwa kebanyakan polis di Yunani tidak memedulikan pendidikan bagi warga negaranya. Meski Aristoteles mengritik bahwa model pendidikan Sparta terlalu terpusatkan pada latihan berperang, toh ia menggarisbawahi sisi positifnya karena model ini memberikan pendidikan yang terarah sesuai dengan rejim politik yang diharapkan akan diteruskan. Meski pujian pada Sparta bisa ditemukan dalam tulisan Platon dan Aristoteles, kritikan mereka juga tajam kepada model ini.

 

Tujuan Agôge : Ideal Total-militer

Xenophon memuji pendidikan Sparta untuk alasan yang lain. Polis-polis Yunani lainnya saat itu mempraktekan pendidikan privat, artinya orang-orang tua mengirimkan anak-anak mereka sesuai keinginan masing-masing kepada para pedagog. Dan jaman itu, para pedagog (yang dalam bahasa kita sekarang diartikan sebagai pendidik) tidak lain adalah kaum budak-budak yang mengajari ini itu kepada anak-anak. Di Sparta praktek seperti itu tidak terjadi. Mengingat pendidikan adalah urusan polis, maka negara-kota memberikan orang-orang yang terlatih dalam bidangnya untuk mendidik anak-anak muda sesuai dengan tujuan negara. Para pendidik diberi nama pedonom (paides-nomos, petugas resmi yang mengawasi pendidikan anak-anak), dan mereka ditemani seorang asisten tukang pecut (mastigophores) » (Edmond Lévy, 2003, hlm. 53).

Agôge Sparta terutama adalah pendidikan militer: secara langsung atau tidak langsung, anak-anak dibawa tahap demi tahap bertumbuh menjadi prajurit petempur yang tangguh. Bila pada era Homerik anak muda dididik supaya menjadi ksatria (bangsawan dengan ethos aristokratisnya), maka di Sparta atmosfernya menjadi lain: anak-anak diajari teknik bertempur maupun teknik politik memenangkan peperangan (Henri-Irénée Marrou, 1948, hlm. 41). Pada era itu memang ada perubahan cara berperang (sebagaimana dicatat Aristoteles di Politik IV 1297b 16-25). Peperangan tidak lagi dilagakan seperti kisah homerik, di mana ksatria-jagoan dari masing-masing kubu turun dan bertarung satu demi satu, melainkan menjadi benturan massal antarprajurit infanteri (hoplit) yang berbaris rapi dalam formasi phalank (barisan berbentuk persegi panjang, 8 orang berderet di baris depan, dan ke belakang sedalam 4 orang ; kadang 16 x 16). Akibatnya, idealisme seorang individu tidak lagi menjadi ksatria aristokratis, melainkan bagaimana ia sepenuhnya berdedikasi secara kolektif bersama individu lainnya kepada polis. Sebuah ideal totaliter lahir: polis adalah segalanya bagi individu, polislah yang memelihara, menjaga dan menjadikan individu menjadi seseorang, sehingga logis kalau tiap warga negara memberikan dirinya sepenuhnya kepada polis (Henri-Irénée Marrou, 1948, hlm. 41). « Tidak ada yang lebih indah daripada mati di barisan paling depan, sebagai orang gagah berani, demi membela polis », demikian nyanyi Tyrtaios (Henri-Irénée Marrou, 1948, hlm. 42). Arête (optimalnya manusia) tidak lagi terujud dalam ethos seorang ksatria, melainkan disempitkan sepenuhnya dalam tindak keberanian seorang prajurit untuk mati di garis terdepan. Individu dilatih dan dibentuk secara militer supaya siap mengorbankan dirinya di garis terdepan bagi kolektivitas (polis) ; dalam kematian di medan laga inilah seorang individu akan mendapatkan penghargaan tertinggi dari polisnya (Werner Jaeger, Paideia: The Ideals of Greek Culture, Oxford: Basil Blackwell, 1954, hlm. 91-93).

Dalam sejarah Sparta, meski agôge ditujukan terutama untuk prajurit petempur, toh harus diakui bahwa pendidikan sensibilitas tetap diberikan (misalnya lewat atletik dan seni naik kuda yang penting untuk lomba Olimpiade; selain itu pendidikan mousike yang basics seperti tarian, nyanyian dan puisi juga pasti diberikan, bdk. Henri-Irénée Marrou, 1948, hlm. 43). Hanya, tampaknya unsur-unsur ini akan makin hilang dalam pendidikan Sparta ketika sistem pemerintahan makin tiranik (mulai tahun 550 SM). Para tiran membuat polis Sparta menjadi barak militer, di mana warga negara selalu harus siap dimobilisasi untuk bertempur. Model pendidikan total-militer inilah yang banyak dilaporkan oleh para penulis abad keempat seperti Xenophon. Mengapa Xenophon memperhatikan agôge di Sparta ? Barangkan Xenophon berangkat dari keprihatianannya akan situasi Athena di abad keempat SM yang membusuk. Untuk memberikan alternatif ideal kepada rekan-rekannya di Athena, maka Xenophon mencoba mencari-cari contoh di masa lalu : ia melihat indahnya disiplin baja kaum Sparta. Dan atas dasar nostalgia itu ia menuliskan model pendidikan Sparta (yang praktis menjadi informasi utama kita saat ini).

 

Tahap-Tahap Agôge

Sparta menganut sistem eugenisme : begitu seorang anak lahir, ia harus dibawa ke komisi para tua-tua untuk diperiksa apakah bayi itu cukup sehat, kuat dan tampan (atau cantik). Bila bayi itu kelihatan buruk atau cacat, maka ia harus segera dibuang (dibunuh) (Henri-Irénée Marrou, 1948, hlm. 46). Bayi yang sehat akan diberikan kepada keluarga, dan sepenuhnya dipelihara oleh keluarga. Mengingat pada usia itu belum ada konsep pendidikan bagi anak-anak usia 0-7 tahun, maka mereka sekedar dipelihara dan dibesarkan.

Seperti umumnya di Yunani, pendidikan dasar dimulai ketika anak menginjak usia 7 tahun. Anak-anak usia 7-12 atau 14 tahun (paides) diajari membaca, menulis, menyanyi dan puisi. Bila kebanyakan polis Yunani tidak mengurusi lagi anak-anak di atas usia 12 atau 14 tahun, maka sistem pendidikan Sparta akan berlanjut terus sampai seseorang mencapai usia 30 tahun. Sejak usia sedini 7 tahun, anak-anak dididik dalam kelompok-kelompok kecil (ila, agéla atau boua), mereka diajak bermain dan berlatih bekerja sama dalam kelompok-kelompok di bawah asuhan pedonom yang ditunjuk polis. Dan mulai usia 12 tahun (atau 15 tahun) mereka akan dimasukkan ke asrama, tidur dan hidup bersama dalam kelompok-kelompok. Mereka harus membuat tempat tidur mereka sendiri, dengan memotong alang-alang air dengan tangan telanjang sebagai alas untuk tidur (Edmond Lévy, 2003, hlm. 55-56).

Model pendidikan Sparta bertumpu pada tiga hal: disiplin, hidup keras, dan kompetisi (rivalitas tanpa henti). Untuk anak-anak usia 7-14 tahun (paides) Xenophon mengisahkan bahwa kaum Sparta menekankan pentingnya disiplin (peitho) dan sopan santun (rasa malu, aidôs). Pendidikan Sparta pada tahap dini bermaksud menciptakan anak yang patuh, sopan, dan memiliki disiplin batin yang keras (enkratesteroi). Menurut Xenophon, karakter seperti itu bisa dicapai karena anak-anak dididik bukan oleh kaum budak atau oleh para pengajar berbayar (misalnya kaum sofis) melainkan oleh sesama warga negara yang lebih senior dan lebih dihormati. Para pedonom yang didampingi asisten pembawa cemeti berhak memerintahkan apa pun kepada anak-anak, mereka juga boleh menghukum setiap bentuk pelanggaran (dengan hukuman fisik atau larangan makan). Anak-anak dididik juga untuk taat kepada siapa pun warga negara yang lebih tua. Selain itu, dalam kelompok usiapun anak-anak harus taat kepada pemimpin (archon) yang ditunjuk (Edmond Lévy, 2003, hlm. 56). Sejak usia awal, pendidikan diujudkan dalam latihan kedisiplinan supaya nantinya mereka menjadi prajurit-prajurit yang patuh kepada pimpinan.

Dalam hidup bersama di kelompok-kelompok, dan nantinya di barak-barak, anak-anak Sparta berusia 12 atau 14 tahun mulai dididik untuk menjalani hidup keras. Berbeda dengan kecenderungan orang-orang Yunani yang terlalu memanjakan anak-anaknya, Xenophon memuja-muji sistem pendidikan Sparta yang melatih anak-anak secara keras. Bila kebanyakan orang tua Yunani memberikan sandal kepada anak-anaknya (sehingga telapak kaki mereka halus), memberikan pakaian yang berbeda-beda sesuai pergantian musim, serta membiarkan anak-anak makan apa pun yang mereka maui, maka menurut Xenophon, anak-anak (paides) Sparta harus berjalan kaki tanpa alas, hanya memiliki satu pakaian untuk satu tahun, dan mendapatkan jatah makanan yang sangat terbatas sehingga mereka dipaksa mencuri untuk memenuhi apa yang mereka butuhkan. Sejak muda anak-anak dilatih menahan lapar dan sakit, berpakaian buruk, tanpa sepatu, kepala dicukur plontos, tidur di tempat seadanya, melewati musim dingin dengan penghangat minimal, dan makanan yang mepet sehingga dipaksa mencuri supaya bisa kenyang.

Untuk soal pendidikan « mencuri » ini barangkali Xenophon agak berlebihan. Memang ada banyak pendapat pro dan kontra soal apakah tindakan ini mesti selalu dilakukan setiap saat, ataukah hanya pada momen tertentu anak-anak dilatih « mencuri tanpa ketahuan » (Edmond Lévy, 2003, hlm. 57). Salah satu episode yang banyak diceritakan adalah tentang seorang anak yang menyembunyikan musang tangkapan di balik jubahnya. Saking disiplinnya ia menyembunyikan musang tersebut, ia bahkan tidak berteriak atau mengeluh ketika perutnya mulai digigiti oleh binatang itu. Ia bertahan berdiam diri, karena kalau ia terdengar mengeluh dan ketahuan orang lain, ia dan kelompoknya akan menerima hukuman yang memalukan.

Hidup yang keras juga dilatihkan lewat pemberian tugas-tugas yang sangat banyak kepada anak-anak. Bila tidak bisa menjalankannya, mereka diancam bahwa kelak ketika dewasa mereka tidak akan mendapat kehormatan menjadi warga negara penuh !

Pada usia lebih lanjut (usia remaja, paidiskos, di atas 14 tahun, tetapi belum mencapai 20 tahun), pendidikan sopan santun (tahu malu, aidos) tetap menjadi tekanan. Di jalan, anak-anak dilatih untuk berjalan « dengan diam, tangan disembunyikan di balik mantol, dan matanya tidak jelalatan ke kanan kiri melainkan fokus melihat kaki mereka sendiri » (Edmond Lévy, 2003, hlm. 58). Pada usia selanjutnya, anak-anak dimasukkan dalam kondisi untuk saling berkompetisi, saling berkelahi dan menunjukkan siapa yang terbaik, supaya mereka bisa dipilih menjadi satu dari 300 anggota Hippeis (pasukan elit pendamping raja). Spirit kejantanan dan insting bertempur diasah lewat perkelahian-perkelahian antar anak-anak muda tersebut. Soal kompetisi yang berujung pada perkelahian guna menunjukkan siapa yang terbaik dan terkuat ini juga banyak diperdebatkan. Apakah anak-anak muda itu dibiarkan senantiasa saling berkelahi kapan pun untuk menunjukkan siapa yang terkuat, ataukah barangkali ada momen-momen tertentu yang sengaja dibuat untuk kepentingan seleksi ? Pendapat ahli saling berseberangan.

Pada usia muda (neoi), katakanlah sebagai puncak dari pendidikan, salah satu latihan keras yang sering dibicarakan adalah praktek kryptie (latihan bertahan hidup dengan bersembunyi) di mana anak-anak dilepaskan di alam terbuka, tanpa bekal dan harus bersembunyi di gunung dan hutan sedemikian rupa sehingga mereka tidak dipergoki oleh seorang warga. Mereka harus bertahan hidup selama setahun, survival. Bila mereka sampai diketahui keberadaannya, maka anak ini akan menerima hukuman keras. Latihan kryptie bertujuan membentuk supaya anak-anak terbiasa hidup survival dalam situasi bahaya perang. Demi hidupnya, mereka harus mencuri untuk makan. Dan menurut informasi lainnya lagi, pada saat inilah anak-anak diwajibkan membunuh (tanpa diketahui) kaum hilotes (yaitu para budak yang dipekerjakan orang-orang Sparta di perkebunan dan pertanian mereka). Selama setahun persembunyian, mereka diperbolehkan membunuh orang hilotes sebanyak mungkin, yang penting tindakan itu tidak dipergoki oleh siapa pun (Edmond Lévy, 2003, hlm. 64-65). Lewat ritus inisiasi semacam ini, anak-anak muda Sparta diajari art of evasion, art of being stealthy, seni kamuflase diri untuk survival maupun untuk menghabisi musuh.

Plutarchus dalam Hidup Lykurgos XXVIII, 3-5 menulis: « Inilah yang disebut kryptie : para pemimpin kelompok-kelompok anak muda, sesuai kebijakannya, akan memilih anak-anak didik yang dinilainya paling pintar untuk dikirim ke lembah atau ke ujung-ujung lain wilayah polis dengan membekali mereka pisau dan sedikit makanan. Pada siang hari anak-anak harus berpencar, bersembunyi, atau beristirahat. Malam harinya mereka harus keluar ke jalan-jalan untuk membunuh kaum hilotes yang bisa mereka temukan. Sering pula pada siang hari anak-anak ke ladang-ladang dan membunuhi orang-orang hilotes yang paling kuat dan paling berani ».

Mirip dengan latihan pasukan komando, anak-anak dilatih melakukan operasi di belakang garis musuh, sambil bertahan hidup mereka harus meneror musuh (dalam hal ini kaum hilotes, kaum budak selalu dianggap sebagai ancaman potensial bagi Sparta). Anak-anak muda dilatih hidup keras dan memiliki kreativitas untuk bertahan hidup dalam situasi sulit. Pembunuhan para hilotes yang menjadi bagian dari agôge merupakan konsekuensi logis dari model pendidikan Sparta yang sejak dini sudah bersifat brutal, keras, dan penuh ancaman hukuman fisik. Bagi Aristoteles, pendidikan semacam ini tidak akan memunculkan orang-orang gagah berani, melainkan hanya melahirkan prajurit yang perilakunya seperti binatang buas (Aristoteles, Politik VIII 4 1338b17-19) (Edmond Lévy, 2003, hlm. 66)

Secara skematis Henri-Irénée Marrou (1948, hlm. 47) meringkaskan proses agôge anak-anak sparta dalam tiga siklus pendidikan. Pertama, usia 8-11 tahun berisi pendidikan lewat permainan dan latihan-latihan fisik; kedua, usia 12-15 tahun anak-anak dimasukkan asrama dengan pendidikan disiplin yang lebih keras. Mulai usia 12 tahun praktis mereka dimasukkan ke barak militer, dan tidak akan pernah meninggalkan barak itu sampai nanti berusia 30 tahun. Dan terakhir, ketiga, adalah siklus pendidikan untuk usia 16-20 tahun. Dan terhadap kaum wanita pun, Sparta menerapkan pendidikan yang mirip. Dengan nada keras, Henri-Irénée Marrou menyebut bahwa pendidikan terhadap kaum wanita ini nyaris mirip dengan apa yang dijargonkan oleh kaum Fasis di abad keduapuluh yang memandang satu-satunya tugas wanita sebagai « menjadi subur dan melahirkan anak-anak yang sehat dan kuat ». Pendidikan musik, tarian atau nyanyian kalah oleh tekanan pendidikan fisik. Kehalusan yang berbau feminin ditinggalkan. Para perempuan Sparta diharapkan memiliki tubuh yang kuat berkat latihan fisik, siap kawin dengan prajurit-prajurit muda Sparta guna menghasilkan keturunan yang lebih baik dan lebih kuat, mirip eugenisme khas ideologi Fasis (Henri-Irénée Marrou, 1948, hlm. 51)

Setelah proses agôge selesai, nilai kesetaraan dan rasa memiliki polis akan dilanjutkan lewat lembaga syssition (makan bersama). Setiap warga negara wajib membawa bagian sumbangannya untuk keperluan makan bersama. Di sini tiap warga, sepanjang hidupnya, diingatkan bahwa ia membawa makanan hasil dari kleros pemberian polis. Dengan berpartisipasi pada makan bersama, tiap homoioi juga diingatkan bahwa mereka adalah satu tubuh dalam polis dan memiliki hak dan kewajiban sosial-politis yang sama bagi polisnya. Dan secara ideologis, dengan makan bersama, sambil mendengarkan kisah warga lain yang bertindak heroik demi polisnya, ikatan warga negara dikokohkan. Praktek ini di satu sisi mengentalkan ikatan warga negara, namun juga menjadikan diri mereka sebagai kelompok ekslusif tertutup yang merasa diri berbeda dari orang-orang yang tidak layak di sebut homioi (Claude Orrieux dan Pauline Schmitt Pantel, 1995, hlm. 107).

 

Kritik : Kepatuhan Buta dan Brutal

Di Sparta, pendidikan fisik gimnastik yang umum dipraktekkan di Yunani, yang meliputi atletik serta berburu, tidak lagi dibuat demi mendapatkan gaya hidup para bangsawan, melainkan sekedar untuk mengembangkan kekuatan fisik. Selain itu, anak-anak juga diajari latihan menggunakan senjata (seperti pedang, tombak), baris-berbaris bermanuver dalam formasi phalank. Tidak mengherankan bahwa di era klasik Yunani, pasukan Sparta dikenal satu-satunya « pasukan komando » yang membuat polis-polis Yunani lainnya terkagum-kagum. Berbeda dengan kebanyakan prajurit lain yang diambil begitu saja sesuai kebutuhan yang muncul dari para warga negara biasa, pasukan Sparta adalah pasukan profesional yang terlatih, berdisiplin tinggi dan memiliki kecepatan manuver yang mengagumkan (phalank Sparta mampu berubah posisi dengan teratur dan cepat, bdk. Henri-Irénée Marrou, 1948, hlm. 49)

Lebih dalam dari sekedar menciptakan polis yang mirip barak tentara, konsep pendidikan Sparta sepenuhnya diarahkan demi pembentukan karakter tertentu: rasa memiliki polis yang kuat dan disiplin. Keutamaan yang dipuja-puji dan hendak dicangkokkan pada warga negara adalah disiplin (Henri-Irénée Marrou, 1948, hlm. 50). Untuk itu anak-anak tidak pernah dididik secara sendiri-sendiri, mereka selalu ada dalam kelompok dengan hierarki jelas, selalu ada superior yang harus ditaati. Sejak kecil anak-anak harus tunduk kepada pedonom yang siap dibantu asisten tukang cambuknya untuk menegakkan disiplin. Kalau ada semacam moral yang dicetakkan pada warga negara, maka itu terujud dalam sikap hidup yang serba sederhana dan tunduk tanpa reserve kepada polis dan hukumnya. Moral ini rentan disalahgunakan oleh kelas penguasa (kaum aristokrat dan tua-tua pemimpin Sparta).

Di mata Henri-Irénée Marrou (1948, hlm. 39) agôge yang dipraktekkan Sparta melalaikan pendidikan sastra. Pendidikan Sparta memang melanjutkan tradisi homerik dan aristokratik yang mengagungkan nilai kegagahan ksatria di medan pertempuran. Namun di Sparta agôge menjadi lebih pragmatis lagi: sekedar untuk membentuk prajurit tempur. Dari model ini, akibatnya muncullah hal kontradiktif: di satu sisi, Sparta adalah polis yang memiliki Undang-Undang sangat mendetail (bahkan sampai mengatur relasi seksual pasangan dewasa), namun di sisi lain, entah bagaimana, tulisan bahasa Yunani di Sparta anarkis dan tidak seragam. Ini menjadi petunjuk bahwa pendidikan yang terlalu pragmatis-militer melalaikan bahasa dan sastra. Semacam puisi dan musik tentu diberikan, tetapi yang diberikan hanya sekedar lagu dan musik mars yang dipakai guna mengomando pergerakan pasukan (Henri-Irénée Marrou, 1948, hlm. 49). Dan ketika sastra dilupakan, bisa dibayangkan kemanusiaan macam apa yang dihasilkan. Seperti dikatakan Aristoteles, pendidikan Sparta hanya menghasilkan prajurit yang meski efisien dan berdisiplin, tetapi brutal dan buta (hanya taat mati kepada komandannya).

Pada titik inilah, meski Platon mengagumi Sparta, ia jelas melihat bahwa sebuah polis tidak bisa begitu saja diserahkan kepada kelas tentara. Polis ideal yang diwacanakan Platon dalam Politeia (The Republic) akan memberi tempat pada keragaman profesi warga negara. Sesuai bakat masing-masing, tiap warga negara akan menempati kelas pedagang dan petani, kelas prajurit, dan kelas filsuf raja dan ratu. Kelas terakhir inilah yang diharapkan membuat Undang-Undang yang akan menjaga supaya tiap kelas menjalankan fungsi masing-masing dengan optimal. Lewat proses paideia (pendidikan) yang panjang dan seleksi berjenjang, kelas filsuf raja diandaikan adalah orang-orang yang akan mampu menentukan Kebaikan macam apa yang harus diupayakan bagi setiap kelas dalam masyarakat supaya negara yang adil tercipta. Pendidikan bukan hanya untuk menanamkan rasa malu dan kepatuhan, namun lebih dari itu, kelas pemimpin harus belajar banyak ilmu teoretis dan menjalani tes lapangan sehingga hanya setelah berusia 50 tahun mereka bisa diseleksi masuk ke kelas filsuf raja dan ratu. Jauh dari nuansa total-militer negara Sparta, tetapi juga tidak bersifat demokratis, city in speech idaman Platon memang masih bernuansa hierarkis dan mengandalkan bahwa calon pemimpin haruslah sudah mampu keluar dari gelap dan brutalnya goa ignorantia.

Pada titik kepemimpinan inilah rejim Orde Baru menyeleweng. Pasukan komando yang tahan banting dan brutal, yang setia buta pada pemimpin, pada dirinya sendiri bagus untuk kepentingan membela negara dari serangan asing. Rakyat yang patuh dan seragam, yang sendika dawuh (siap melaksanakan perintah), yang tidak terlalu cerewet dan percaya sepenuhnya pada pemimpin tentu juga tidak harus jelek pada dirinya sendiri. Namun bila itu semua lalu berada di tangan seorang Soeharto yang percaya bahwa dirinya Raja yang spiritnya macchiavelik (yang menghalalkan sarana apa pun demi melanggengkan kekuasaan dan kekayaan pribadi), akibatnya menyeramkan. Konon Bu Tien Seharto pernah mengatakan kepada Marzuki Arifin: « Bapak itu sebenarnya Raja, tetapi sekarang istilah Raja tidak dipakai lagi. Yang dipakai Presiden saja » (Salim Said, 2013, hlm. 295). Bukan hanya musuh yang diganyang Soeharto, teman dekat dan pendukung yang menampakkan potensi ancaman pada dirinya dan keluarganya pun ia habisi. Satu yang kurang dari rejim tentara khas Sparta, sebagaimana menampak dalam figur Soeharto, adalah kepemimpinan yang jauh dari pengetahuan akan Kebaikan. Sistem ini hanya menciptakan alat bernama tentara, namun membiarkan raja-raja Sparta maupun Soeharto bergerak dengan instingnya sendiri, yang akhirnya tak jauh dari ketamakan akan uang.

 

Kritik: Uang Menghancurkan

Selain jauh dari apa-apa yang bersifat pengetahuan (episteme), sistem pendidikan total-militer Sparta melanggengkan arete (excellence) khas militer. Yang optimal bagi manusia adalah mati di medan pertempuran (bukan dalam arti sembarang mati karena nekat maju menyongsong musuh, melainkan kematian karena tetap teguh di baris terdepan, setia pada posisinya, berdiri dengan kaki gagah, di samping temannya, dalam formasi phalank, menahan gempuran musuh). Itulah kematian mulia yang dipuja-puji Sparta dan menjadi idaman tiap warga negara. Dengan cara itu, seseorang menggapai imortalitas, karenanya namanya hidup dan terus diingat serta dikisahkan turun temurun oleh komunitasnya (Edmond Lévy, 2003, hlm. 42-43, bdk. Werner Jaeger, 1954, hlm. 93). Dikisahkan bahwa ketika ibu-ibu Sparta melepas anak lelaki atau suaminya ke medan perang, mereka akan memberikan perisai (hoplon) sambil berkata « with this shield or on it, dengan perisai ini (artinya pulang menang perang dan dalam kondisi hidup) atau diusung dengan perisai ini (artinya pulang mati mulia di medan perang) ».

Maka menjadi pertanyaan yang aneh, bagaimana mungkin polis yang terbentuk secara disiplin dan kompak seperti itu bisa hancur ? Jawabannya tidak misterius. Setelah kemenangan 404 SM atas Athena, pelan-pelan Sparta akan mengalami korupsi (proses pembusukan). Penyakit yang pelan-pelan menggerogoti dan melemahkan Sparta adalah berlimpahnya kekayaan yang membuat mereka menjadi serakah dan akhirnya meninggalkan nilai-nilai moral tradisionalnya. Kemenangan atas Athena membuat Sparta menjadi kaya raya, selain dari harta jarahan, mereka juga menerima pajak dari polis-polis yang tunduk kepada mereka (Edmond Lévy, 2003, hlm. 262-263). Werner Jaeger (1954, hlm. 81) menulis dengan tegas: « Uang, yang semula tidak dikenal di Sparta, mengalir masuk ke polis; sebuah orakel kuno yang ditemukan telah mengingatkan bahwa ketamakan, iya hanya ketamakan, yang akan menghancurkan Sparta » .

Akumulasi harta benda menciptakan ketidaksetaraan yang memperlemah ikatan sosial (Edmond Lévy, 2003, hlm. 266). Lebih parah lagi, makin banyaknya orang miskin di kalangan warga negara membuat mereka tidak bisa membayar bagian wajib yang harus mereka berikan untuk syssition (makan bersama), sehingga lama kelamaan orang-orang miskin ini tidak dianggap lagi sebagai warga negara. Konsekuensinya, jumlah resmi warga negara, dan dengan demikian tentara, berkurang drastis (Edmond Lévy, 2003, hlm. 269). Lebih dalam lagi, proses itu membuat ideal homoioi (sesama yang setara) juga luntur. Visi polis Sparta yang dilandaskan pada homoioi membuat mereka membangun hidup bermasyarakat seperti barak militer : anak-anak dan remaja dididik bersama-sama lewat proses yang sama dan setelah besar kesatuan antara warga dipelihara lewat makan bersama. Dengan cara itu terciptalah warga negara sekaligus tentara yang mengabdikan diri mereka tanpa batas kepada polisnya. Saat ideal seperti itu hilang, maka hilang pula keindahan arete Sparta untuk rela mati di medan tempur. Jika di pertempuran Thermophylae (480 SM) 300 hoplit Sparta memberikan diri mereka mati demi mempertahankan Yunani, maka pada tahun 371 SM (saat Sparta kalah dalam pertempuran di Leuktra), dari 700 tentara Sparta yang bertempur, 400 yang tewas. Bila dari jumlah korban ini ada 300 hippeis dan 100 hoplit yang gugur, maka masih ada sisa 300 hoplit yang anehnya tidak mati sesuai dengan ethos tradisional prajurit Sparta (Edmond Lévy, 2003, hlm. 272).

Platon sendiri sudah melihat bahwa ujung dari pemerintahan militeristik (atau dalam bahasa Platon rejim timokrasi) seperti Sparta tidak jauh-jauh amat dari ketamakan akan harta kekayaan. Bila demokrasi adalah rejim yang secara nyata mengumbar epithumia (nafsu akan uang), maka di Politeia VIII 548a-b, Platon mengatakan bahwa ciri dari rejim timokrasi adalah adanya ketamakan akan hart dan cinta diam-diam kepada uang (Edmond Lévy, 2003, hlm. 266, bdk. Juga Platon, Alkibiades maior 122d-123a).

Bila uang ternyata menjadi inti dari politik, dan para warga tentara Sparta tidak pernah memiliki hak untuk bertanya mengenai kebijakan dari para aristokrat pemimpin mereka, maka jalan ke penyalahgunaan terbuka lebar. Di abad keempat SM, ambisi macchiavelik raja Sparta akan membuat para prajurit sekedar menjadi alat bagi ketamakan mereka (Werner Jaeger, 1954, hlm. 81).

Pada era Orde Baru, permainan para Jenderal berlatar belakang Kopassus (Benny Murdani vs Prabowo Subianto) yang berebut muka di depan Soeharto tidak jauh dari politik uang. Guna menunjukkan siapa memiliki pengikut paling banyak di kalangan ABRI : « Moerdani rajin bagi-bagi hadiah kepada para pengikut atau para perwira yang didekati untuk paling sedikit tidak berpihak kepada kekuatan yang tidak loyal kepadanya. Prabowo juga melakukan hal yang sama. Maka terjadilah kompetisi bagi-bagi duit dan hadiah » (Salim Said, 2013, hlm. 336)

Dan cara Soeharto memerintah pun tidak jauh dari kepentingan uang. Soeharto memusatkan semua kekuasaan di tangannya, dan dengan seenak perut mengangkat dan memberhentikan pejabat militer maupun politik di negeri ini. Kriterianya satu: yang mengancam kekuasaannya ia singkirkan, yang membantunya melanggengkan kekuasaan ia ambil. Benar bahwa menurut Soeharto jamannya enak, karena ia memang seenaknya sendiri. Kroni dan keluarganya hidup sangat enak, sementara rakyat, iya ratusan juta rakyat, dibuat permainan demi mengenakkan mereka. « Dengan kekuasaannya yang luar biasa besarnya, Bapak Presiden (Soeharto) bisa mengangkat siapa saja, untuk jabatan apa saja, dan kapan saja. Aturan-aturan baku militer dan organisasi politik tidak penting baginya » (Salim Said, 2013, hlm. 346).

Semua diputuskan Soeharto sendiri. Ujung-ujungnya semua kekuasaan itu adalah untuk duit juga ! Moerdani disuruh « mengamankan » sedemikian rupa supaya Tutut dan Tommy bisa berbisnis. Menteri PU (Radinal Mochtar) dipaksa memberikan tender proyek jalan tol Cawang-Priok kepada Tutut. Adik Soeharto bernama Probosutedjo mendadak kaya, karena kata Soeharto « Kalau saya bisa memperkaya orang lain, mengapa saya tidak boleh memperkaya keluarga saya sendiri » (Salim Said, 2013, hlm. 326-327). Mantan Pangab dan mantan Wakil Presiden Try Sutrisno juga pernah mengingatkan Soeharto soal bisnis anak-anaknya. Namun beginilah jawaban Soeharto: « Try, apakah ada aturan, atau undang-undang yang melarang anak pejabat berbisnis? Kalau ada, saya tidak mau jadi Presiden. Kan, tidak ada larangan itu. Mau jadi tentara, pegawai negeri, atau pengusaha, semua boleh » (Anhar Gonggong, dalam Salim Said, 2013, hlm. 289, 574). Penelusuran dengan Google masih menyimpan dengan baik informasi yang pernah banyak digunjingkan tentang kekayaan Soeharto yang berhasil ia timbun selama 32 tahun menjadi presiden. Alexandre Messager (Indonésie : Chroniques de l’ordre nouveau, Paris: L’harmattan, 1999, hlm. 54) mengutip sumber majalah Forbes edisi 28 Juli 1997 yang mengatakan bahwa kekayaan Soeharto diperkirakan 16 milyar dollar. Jumlah ini masih harus ditambahi dengan 15 milyar dollar lagi temuan majalah Asian Time (Mei 1999). Dan Koran Figaro (edisi 10 Januari, 2008, artikel « L’Indonésie cherche les milliards de Suharto ») dari Prancis ikut memberitakan hingar bingar di tanah air yang ribut menyebut jumlah 40 milyar dollar AS sebagai perkiraan kekayaan Bapak Soeharto.

Menarik untuk mengamati bahwa sebagai tentara, Soeharto tidak ingin satu pun anaknya menjadi militer. Ia tahu, hidup tentara itu susah. « Prinsip Soeharto tampaknya adalah, kalau bisa kaya raya dengan cepat, mengapa harus berusah-susah jadi bawahan sebelum akhirnya menjadi Jenderal. Lagi pula jadi Jenderal pun belum tentu kaya » (Salim Said, 2013, hlm. 259).

Pada hari-hari akhir setelah tersingkir dari kekuasaan, Benny Moerdani, sang « anjing herder penjaga Soeharto » (Salim Said, 2013, hlm. 335), ketika menanggapi pernyataan ironis « Hebat ya, Pak Harto? Bisa bertahan begitu lama, sementara Sukarno hanya tahan beberapa tahun », maka Moerdani menjawab « Ah, tidak. Kita yang bodoh » (Salim Said, 2013, hlm. 351). Keterlambatan menyadari kebodohan juga dialami Ali Moertopo, Jenderal dan politisi canggih bos Operasi Khusus, tokoh yang banyak membantu kelanggengan kekuasaan Soeharto. « Saya ini bagaikan ayam petelur. Setelah tidak lagi bertelur, disembelih », keluh Ali Moertopo (Salim Said, 2013, hlm. 357).

Apakah kita masih akan bernostalgia dengan era Soeharto? Era ketika tentara diperalat menjadi « anjing herder », ketika politik ia permainkan seenaknya, ketika rakyat hanya dijadikan massa mengambang yang tak boleh omong! Dalam permenungan Salim Said, « Soeharto mungkin bisa diumpamakan sebagai seorang pemeras kelapa yang andal. Dia pandai memilih dan memanfaatkan kelapa yang bersantan banyak. Dan setelah santan diperas, ampasnya segera dibuang. Maka tidak usah mengherankan kalau ketika ‘santan’ Moerdani, Ali Murtopo, Sumitro, Kemal Idris, Sarwo Edhie, dan H. R. Dharsono sudah diperas habis, bagi Soeharto para Jenderal itu tidak bermanfaat lagi. Karena itu disingkirkan saja sebelum menimbulkan persoalan » (Salim Said, 2013, hlm. 358-359).

Ketika selama Orde Baru rakyat dijadikan warga yang patuh seperti tentara, maka yang sungguh enak adalah Soeharto yang berada di atas sana untuk menggunakan apa dan siapa pun untuk kepentingannya. Sarwono Kusumaatmadja (saat menjabat Sekjen Golkar) tegas mengatakan bahwa « Untuk mempertahankan kekuasaannya Pak Harto selalu memastikan agar di antara orang-orang di bawahnya selalu ada konflik. (…) Semua akhirnya bergantung pada Soeharto. Kalau salah satu pihak menjadi sangat kuat, pihak itu disingkirkan » (Salim Said, 2013, hlm. 294, 376). Politik divide et impera untuk mengontrol tentara dan politik ini oleh Jusuf Wanandi disebut sebagai cara memerintah seorang Raja: « (…) karena Pak Harto bersikap apa saja yang diinginkannya akan menjadi hukum, karena dia seorang Raja. Menurut norma-norma Raja Jawa, Raja berkuasa karena dilimpahi ‘mandat’ dari Atas untuk berkuasa dan memerintah. Semua bawahannya harus bergantung pada sang Raja dan melaksanakan apa saja yang telah diputuskan di singgasana » (Salim Said, 2013, hlm. 294-295).

Di era Reformasi, politik uang tentu masih sangat kental, karena kalau berbicara tentang uang, baik sipil maupun militer akan sama-sama mudah tergoda. Politik Indonesia itu jenes, « kayak septic tank, bikin gatal, bau, busuk », kata Wakil Ketua KPK Busyro Muqodas (« Indonesia Penuh Politik Kumuh », Koran Tempo, Senin 20 Januari 2014, hlm. 7). Namun di era Reformasi, meski cara berpolitik dan cara berbisnis masih sangat kumuh, toh para koruptor tidak bisa seleluasa dulu lagi. Para pemimpin daerah yang membangun dinasti kerajaan masih banyak, namun mereka harus makin canggih dan hati-hati karena banyak pula yang sudah masuk bui. Figur seperti Abraham Samad menyadari sepenuhnya bahwa korupsi jahat karena kebanyakan yang melakukannya justru orang-orang yang sudah mapan: korupsi muncul karena ketamakan, karena hedonisme (bdk. Siaran « Mata Najwa : Penebar Inspirasi Bersama Jokowi, Abraham Samad, Ganjar Pranowo, Anis Baswedan dan Jusuf Kalla », On Stage di UNS, 1 Januari 2014). Busyro Muqodas mengatakan yang sama : « Koruptor itu borjuis dan greedy (serakah). Rp. 200 juta sudah dibawa pulang dari gaji dan pendapatan, kok, masih nyolong. Itu namanya sakit jiwa » (Koran Tempo 20 Januari 2014, hlm. 7). Keberanian KPK menangkapi koruptor adalah sesuatu yang memberi titik harapan. Orang-orang yang berjihad di KPK adalah buah Reformasi yang tidak mungkin eksis di jaman Soeharto ! Figur seperti Jokowi dan Ahok tidak akan bisa muncul menjadi people darling bila atmosfer negeri ini masih corrupted (busuk) seperti era Soeharto. Ethos hidup dari gajinya sendiri, mencukupkan diri dengan yang diterima, transparan, dan bekerja keras untuk rakyat tanpa memperkaya diri hanya bisa muncul dan dianggap menjadi panutan berkat kedewasaan rakyat Indonesia di alam demokrasi Reformasi ini. Roh jaman sudah berubah. Rakyat tidak lagi mendambakan Pemimpin Besar seperti Sukarno atau Raja Jawa seperti Soeharto. Rakyat yang percaya diri lebih menantikan figur pemimpin yang mirip dengan mereka : merakyat dan bekerja keras seperti rakyat.

Mendambakan kembalinya Soeharto berarti mengajak kita semua menjadi bodoh. Mengapa ? Karena kitalah (tentara seperti Ali Moertopo, Benny Moerdani dan seluruh rakyat yang patuh) yang memungkinkan Raja seperti Soeharto berkuasa 32 tahun. Era Reformasi, meskipun masih singkat, telah banyak mendewasakan rakyat dan memintarkan para tentara. Rakyat di dunia Timur memang umumnya memiliki filial piety (kesalehan anak kepada orang tuanya) sehingga mudah tergoda untuk membiarkan dirinya diperintah oleh figur Bapak. Fatamorgana era Soeharto, meski palsu, tetap saja bisa menarik dan menipu jiwa-jiwa muda atau orang dewasa yang kelelahan.

 

Kritik: Nostalgia tanda Kemerosotan

Terakhir, perlu diingat bahwa imaji heroik tentang Sparta yang kita miliki sejauh ini sumbernya terutama dari Xenophon. Idealisasi atas Sparta ditulis ketika Athena (tempat di mana Xenophon hidup) sedang meredup dan diperintah oleh rejim demokrasi yang anarkis. Kelihatan sangat normal bahwa ketika hawa kemerosotan menyesakkan dada, orang lantas mencari-cari model ideal dari tetangga atau dari jaman lain sebagai pegangan bagi dirinya. Bukan hanya Xenophon, idealisasi atas masa lalu yang dianggap era keemasan juga menghinggapi orang Sparta yang melihat dunianya di abad keempat berubah. Alih-alih belajar mengambil resiko, Sparta malah mengidealkan sistem pendidikan dan nilai-nilai tradisional kegagahberanian di medan tempur dari masa lampau. Ketika dunia berubah, taktik pertahanan polis berubah, Sparta justru terpenjara dalam idealisasi dirinya sendiri sehingga tidak mau merombak lembaga dan struktur sosialnya. Akhirnya Sparta menjadi korban idealisasi nostalgis atas masa lampaunya, dan ia akan dikalahan oleh polispolis lainnya (bdk. Edmon Lévy, 2003, hlm. 309).

Pertanyaan yang sama layak diajukan pada era Reformasi sekarang ini : jangan-jangan gerakan nostalgia « isih penak jamanku, tho » bersumber dari keresahan yang mirip. Ada persepsi bahwa jaman Reformasi adalah jaman yang tidak enak. Saat pilar keempat demokrasi (yaitu media) menjadi banyak omong tanpa mutu, saat ketiga pilar demokrasi (trias politica) beralihrupa menjadi trias « korruptika », ketika pondasi demokrasi yaitu parpol malah menjadi sarang korupsi, ketika wajah hukum porak poranda oleh kasus suap dan korupsi, dan ketika di atas itu semua, taraf hidup rakyat dirasa tidak menjadi lebih baik, maka godaan bernostal-gila pada era Soeharto merebak. Bisa dipahami kalau ada orang yang merasakan era Reformasi sebagai era kemerosotan sehingga memimpikan masa lalu. Namun harus diingat, nostalgia akan masa lalu bisa menjadi penjara yang membuat kita lupa bahwa jaman sudah berubah.

Bila pada era Orde Baru seturut peristilahan Jenderal Sumitro dan Letjen Sayidiman Suryohadiprojo « dwifungsi ABRI sudah tidak jalan » karena semua ada di tangan Soeharto, atau kasarnya tentara « hanya menjadi alat Soeharto, keluarga, dan kroninya » (Salim Said, 2013, hlm. 287, 377), maka jaman sudah maju. Kita sudah bosan dengan Raja seperti Soeharto yang seenak perutnya memperkaya diri dan keluarganya. Era Reformasi juga menunjukkan bahwa para tentara banyak belajar, banyak berpikir soal HAM, dan konsisten untuk tidak campur tangan lagi di bidang politik. Mereka bertekun di tempatnya: kembali ke barak, memprofesionalkan diri. Ini adalah kemajuan luar biasa era Reformasi yang jarang kita sadari. Maka menarik mengamati pernyataan mantan perwira Kopassus Muhammad Yunus Yosfiah (yang pernah menjadi Kasospol ABRI dan Sekjen PPP), yang di mata Salim Said adalah seorang serdadu tulen yang apolitis. Di masa akhir Soeharto, Yunus pernah berpidato supaya ABRI jangan sampai menjadi dinosaurus : « Karena tidak bisa menyesuaikan diri terhadap perkembangan, dinosaurus akhirnya punah » (Salim Said, 2013, hlm. 523-524). Militer telah berhasil mengawal Reformasi sehingga pada saat ini menjadi kekuatan yang terus dibutuhkan untuk menumbuhkan Indonesia sebagai negara demokratis.

Memang ada kalangan yang suka dengan penjara nostalgia, menghembus-hembuskan ide bahwa dinosaurus adalah binatang perkasa, jinak dan cinta pada mahkluk yang lemah. Baliho besar seorang caleg di Bawen-Ambarawa pada desemberan tahun lalu memajang caleg Golkar dengan senyuman Pak Harto di belakangnya. Naif ? Konyol ? Indahnya demokrasi memang memungkinkan hal-hal konyol seperti itu terjadi. Dan keindahan seperti ini yang mesti dirawat secara serius. Bila demokrasi kita salah gunakan, sehingga Pak Harto atau figur seperti dia muncul lagi, maka, « selamat tinggal demokrasi ». Para caleg kehilangan pekerjaan karena parpol-parpol akan diberangus, hak politik masyarakat dicampakkan, kita semua kembali masuk barak militer, dan segala sumber daya ekonomi akan dikuras oleh sang pemimpin, sehingga kita lalu bertanya-tanya « isih penak jaman sing ngendhi tho? ». Pertanyaan yang mengenaskan, karena sejak jaman Sparta sampai Soeharto, satu-satunya yang keenakan selalu saja sang pemimpin dengan keluarga dan kroninya !

Jadi, benarkah ada jaman yang sungguh-sungguh enak? Jawabannya jelas: tidak ada jaman yang enak. Hanya orang-orang dekaden, penganggur atau penipu, yang suka jualan obat soal jaman yang enak. Anak-anak yang belum mentas dan mereka yang lahir di atas tahun 90-an adalah sasaran jualan obat palsu ini. Dan iklan jualan, meskipun bohong dan menipu, bisa efektif menjaring konsumen. Ini yang harus diwaspadai.

 

Penutup

Satu hal adalah tentara, hal lain adalah Soeharto yang memperalat tentara untuk melanggengkan kekuasaannya. Memang Soeharto adalah tentara, ia tumbuh besar dan bermentalkan tentara, sehingga mau tak mau menerapkan cara hidup militer saat memimpin negara ini. Namun jangan lupa, Soeharto lama kelamaan menganggap dirinya raja, artinya dalam hal ini ia menjadi figur normal penguasa macchiavelik (yang kepentingannya hanya satu, yaitu melanggengkan kekuasaan dan kekayaan diri serta keluarganya). Dalam analisis Salim Said, sangat terang benderang bahwa Soeharto sebenarnya menyiapkan Tutut untuk menjadi penggantinya (Salim Said, 2013, hlm. 378-385). Dan interest menimbun harta serta membangun dinasti kekuasaan jelas bukan minat kebanyakan orang yang memilih tentara sebagai profesi hidupnya. Orang menjadi tentara biasanya karena ingin mengabdi bangsa dan negara, mengerahkan energi keberanian dan bangga dirinya demi kejayaan bangsa. Militer-militer tulen seperti ini yang lalu dijadikan alat yang sangat efektif oleh Soeharto untuk melanggengkan kekuasaannya.

Model pendidikan total-militer di Sparta (cara mendidik pasukan komando yang hebat dan warga negara yang seragam dan patuh) bisa menjelaskan kerasnya cara hidup masyarakat seperti itu. Rejim Orde Baru juga dicirikan oleh sifatnya yang brutal, terhadap musuhnya, terhadap rakyatnya, dan bahkan dalam inner circle kekuasaan Soeharto sendiri. Dan ketika kejayaan Sparta akhirnya diarahkan raja-rajanya ke ambisi ketamakan akan uang, seperti halnya Raja Soeharto seenak perutnya sendiri mengurusi negara ini demi kekayaan dirinya, kroni dan keluarganya, maka jelas bahwa pendidikan total-militer itu sendiri yang memungkinkan bertahannya sang penguasa. Rakyat dan tentara terlanjur patuh, tidak pernah tahu cara lain untuk memimpin dirinya, dan lumpuh berhadapan dengan kelicikan penguasa macchiavelik. Kalau Soeharto bisa bertahan lama, itu karena kebodohan kita. Yang dimaksud « kita » adalah para Jenderal yang semula menjadi pendompleng Soeharto entah karena devosi entah karena ambisi untuk mendekati pusat kekuasaan ; « kita » juga berarti seluruh rakyat Indonesia, yang entah karena terlalu patuh seperti tentara entah karena terpenjara jiwa feodal, membiarkan dirinya ditipu sang Bapak.

Pendidikan total-militer seperti Sparta harus diwaspadai, karena model ini menciptakan orang-orang yang patuh dan mudah dikuasai, hanya menciptakan alat, dan jauh dari idealisme memanusiakan manusia. Bila banyak anak muda belasan tahun atau kalangan rakyat masih gampang tergoda iklan « isih penak jamanku, tho ? », jangan-jangan karena model pendidikan spartan masih ditekuni dengan naifnya di sekolah maupun tempat ibadah di negeri ini.

 

Sumber :

Claude Orrieux dan Pauline Schmitt Pantel, Histoire grecque, Paris: PUF, 1995.

Edmond Lévy, Sparte: Histoire politique et sociale jusqu’à la conquête romaine, Paris: Editions du Seuil, 2003.

Henri-Irénée Marrou (Histore de l’éducation dans l’Antiquité: I Le monde grec, Paris: Editions du Seuil, 1948.

Werner Jaeger, Paideia: The Ideals of Greek Culture, Oxford: Basil Blackwell, 1954.

Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian, Bandung: Mizan, 2013.

Siaran « Mata Najwa: Penebar Inspirasi Bersama Jokowi, Abraham Samad, Ganjar Pranowo, Anis Baswedan dan Jusuf Kalla », On Stage di UNS, 1 Januari 2014.

Youtube, « Battle of Thermopylae », dari History Channel

Alexandre Messager, Indonésie: Chroniques de l’ordre nouveau, Paris: L’harmattan, 1999.

Koran Figaro, 10 Januari, 2008, artikel « L’Indonésie cherche les milliards de Suharto »

Koran Tempo, Senin 20 Januari 2014, artikel wawancara dengan Wakil Ketua KPK Busyro Muqodas, « Indonesia Penuh Politik Kumuh », hlm. 7.

Posted on September 12, 2015 in Artikel

Share the Story

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top