Puisi Kebangsaan

A epoche

Kemerdekaan, bernilai lebih dari kebebasan. Kemerdekaan seringkali harus dicapai dengan secara sadar mengorbankan kebebasan yang begitu besar. Orang yang merdeka adalah orang yang tahu batas, bukan orang yang bablas. Bangsa yang merdeka adalah juga bangsa yang tahu batas, tahu diri, dalam arti mampu melihat ke dalam dirinya sendiri dan bercermin atas apa yang telah, sedang, dan akan dicapainya. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang jauh dari rasa sesal-diri (self-pity), tetapi menaruh kasih pada sesamanya, dan mengerti bagaimana membatasi kebebasannya demi tujuan yang jauh lebih besar: kemerdekaan!

Mari bercermin dari puisi di bawah ini.. Merdeka!

PITY THE NATION

“Pity the nation that is full of beliefs and empty of religion.
Pity the nation that wears a cloth it does not weave
and eats a bread it does not harvest.

Pity the nation that acclaims the bully as hero,
and that deems the glittering conqueror bountiful.

Pity a nation that despises a passion in its dream,
yet submits in its awakening.

Pity the nation that raises not its voice
save when it walks in a funeral,
boasts not except among its ruins,
and will rebel not save when its neck is laid
between the sword and the block.

Pity the nation whose statesman is a fox,
whose philosopher is a juggler,
and whose art is the art of patching and mimicking

Pity the nation that welcomes its new ruler with trumpeting,
and farewells him with hooting,
only to welcome another with trumpeting again.

Pity the nation whose sages are dumb with years
and whose strongmen are yet in the cradle.

Pity the nation divided into fragments,
each fragment deeming itself a nation.”

Kahlil Gibran, The Garden of the Prophet (New York: A. A. Knopf, 1933)

Saduran:

 

Kasihan bangsa
yang penuh kepercayaan dan kosong agamanya,

yang mengenakan pakaian
yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum
yang tidak ia panen,
dan meminum susu
yang ia tidak memerasnya.

Kasihan bangsa
yang menjadikan orang dungu-kasar
sebagai pahlawan
dan menganggap penindasan penjajah
sebagai hadiah.

Kasihan bangsa
yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya
ketika tidur,
sementara menyerah padanya
ketika bangun.

Kasihan bangsa
yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan
di atas kuburan,
tidak sesumbar
kecuali di reruntuhan,
dan tidak memberontak
kecuali ketika lehernya sudah berada
di antara pedang dan altar penjagalan.

Kasihan bangsa
yang negarawannya serigala,
filsufnya gentong nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa
yang menyambut penguasa barunya
dengan sorak-sorai,
Namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lainnya,
dengan sorak-sorai yang sama.

Kasihan bangsa
yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu,
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa
yang terpecah belah,
dan masing-masing pecahan,
menganggap dirinya sebagai bangsa.

– Pemberian dari HT di YKBS –

MERDEKA!

Posted on August 16, 2015 in Fenomenologi

Share the Story

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top