Catatan si BurHan MINERVA

Raden Saleh Syarif Bustaman

Transportasi berbasis on-line: Dibutuhkan tetapi tidak diinginkan?

cdlOjek lahir sebagai dampak dari buruknya sistem transportasi publik yg tidak bisa dikatakan aman, nyaman dan tepat waktu. Belum lagi kuantitas transportasi umum dan resmi yang ada sekarang tidak bisa menjangkau seluruh wilayah kota. Kemacetan yg semakin parah menciptakan peluang angkutan alternatif dengan sepeda motor, jadilah ojek.

Awalnya mungkin iseng-iseng saja ngojek sana-sini, toh daripada menganggur, kalau meng-ojek lumayan bisa dapat tambahan penghasilan. Namun semakin lama animo pengguna ojek semakin besar dan semakin dibutuhkan. Harus disadari bahwa ojek memang bukan angkutan umum yang legal. Tetapi Dinas Perhubungan sampai detik ini pun belum memberi solusi atas keberadaannya. Tambahan pula, era digital rupanya mencetuskan pelbagai terobosan kreatif yang lebih tak disangka-sangka: apa yang awalnya sebuah keisengan, ternyata justru menjadi gejala sosial baru yang booming, yaitu ojek on-line alias ‘GoJek.

Ojek on-line ternyata bisa menyokong tiga aktivitas penting penduduk Ibukota dan sekitarnya: 1) Pendukung transportasi nan cepat dan murah yang mampu menerobos padatnya kemacetan; 2) Kurir untk mengantar barang dan melayani berbagai pesanan; 3) Agen untk menjembatani berbagai pesan (pd masa lampau memakai merpati dan Pos, sekarang bisa dg ojek).

Di awal mula munculnya ojek-ojek on-line, semua cuek-cuek tiada peduli. Setelah trend dan menjadi kekuatan ekonomi tersendiri baru mulailah diributkan, yang inilah, yang itulah, dipertanyakan semua cara beradanya. Vonis yang sebelumnya dijatuhkan Kementerian Perhubungan kepada khalayak ojek on-line sebagai ilegal, dan surat kepada Kapolri untuk menindak mereka, sebetulnya justru semakin mencerminkan fakta buruknya moda transportasi nasional kita. Jika hendak dirumuskan mungkin kita bisa menyebut lima (5) pokok persoalan berikut :

1. Transportasi angkutan umum memang belum layak dikatakan representatif bagi keamanan, kenyamanan, dan ketepatan waktu masyarakat luas;

2. Hukum konvensional yang ngos-ngosan tertinggal di belakang dinamika laju perubahan masyarakat yg berubah begitu cepat;

3. Kebijakan-kebijakan publik yang bagaikan kebakaran jenggot menghadapi berbagai kompleksitas persoalan masyarakat dan kemudian langsung menjatuhkan vonis-nya sendiri yang justru seringkali kontra-produktif;

4. Ketidakpekaan terhadap munculnya berbagai fenomena baru di masyarakat. Setelah gejala membesar baru ribut. Ini sebetulnya refleksi atas sistem yg reaktif dan tidak problem solving;

5. Jajaran aparatur yg belum siap menghadapi era terhubung /on line yang sarat dengan berbagai terobosan aplikasi baru.

GoJek, Grabike, Uber dan taksi-taksi on-line memang sedang menjamur dan faktanya masyarakat senang, meski pengusaha-pengusaha transportasi manual dan konvensional merasa dirugikan karena pelanggannya beralih. Tatkala kebijakan telah diputuskan ternyata sekonyong-konyong harus dijilatnya lagi. Mengapa? Karena ada sengatan dari Presiden. Maka berubahlah kebijakan tadi. Sekali lagi sebuah contoh efektivitas keputusan politik dan kepemimpinan.

Catatan 19 Desember 2015

Chryshnanda Dwilaksana

Editor: Ito Prajna

Posted on December 18, 2015 in Featured, Jurnal, Kenegaraan, Kepemimpinan & Pendidikan, Liputan

Share the Story

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top